|
Semua orang ingin dirinya merasa berguna, baik untuk dirinya sendiri (yg kemudian kita sebut dia sebagai seorang egois), bagi keluarga dan kerabat dekatnya, bagi komunitasnya, dan yg tertinggi bagi bangsa dan negaranya. Berbagai upaya dilakukan untuk mencapai tujuan hakiki dalam hidup ini. Bedanya tipis2 antara orang2 yg memang benar2 berguna dan menyumbang terhadap kemajuan, dengan orang2 yg ‘sepertinya’ berguna. Ada puluhan lembaga pembela rakyat dan penyelamatan lingkungan hidup. Tapi seberapa efektifkah kerja dan upaya lembaga2 ini? Ada puluhan bahkan ratusan orang yg merasa melakukan kerja volunteer untuk penyelamatan lingkungan. Tapi seberapa besar lingkungan yg terselamatkan. Tulisan ini dibuat sebagai bahan refleksi. Terutama bagi si penulis utamanya. Yg juga seringkali kesulitan memahami apa sebetulnya kebutuhan rakyat dan orang banyak. Dan sering merasa besar kepala. Terlena dengan indahnya kerja2 donor dan travelling2 pertemuan di mancanegara, sambil tentunya sesekali berpose untuk bahan mejeng di face book. Seorang teman begitu bangganya menjadi volunteer Al Gore untuk penyelamatan lingkungan melalui isu Climate Change. Terlepas dari kehebatannya bermain2 kata dan menyusun proposal atau form aplikasi untuk mendapatkan dukungan dana untuk trip meeting luar negeri berikutnya, sesungguhnya tidak ada yg hebat dengan apa yg mereka kerjakan. Tidak lebih baik dibanding seorang andi yg susah payah memahami dimana batas wilayah dusun cimonyetnya. Ada sebuah gap besar antara asiknya berdiskusi dengan kenyataan permasalahan di lapang yg sesungguhnya benar2 terjadi. Sebuah presentasi yg
digelar oleh ketua volunteer Al-Gore di Kuningan Jakarta minggu lalu. Katanya ada
33 tempat lain di Indonesia yg juga mengadakan presentasi yg sama. Diusulkan untuk
langsung masuk dan menggunakan kelompok tani untuk pencapaian tujuan Climate
Change ini. Usulan tidak diterima. Harus diubah yg menjadi sasaran tembak kampanye jangan lagi kelompok LSM juga atau kelas menengah para peneliti yg mungkin mereka sudah paham persisnya apa dan bagaimana penyelamatan lingkungan harus dilakukan. Coba langsung masuk ke publik dan berinteraksi dengan mereka. Lihat apa yg dilakukan Kelompok Peduli Ciliwung (KPC) dengan aksi mulungnya yg dilakukan setiap minggu. Ada benar2 sejumlah karung plastik yg terangkat dari sungai Siliwung setiap minggunya. Ada beberapa orang yg langsung merasakan dinginnya air Sungai Ciliwung dan gelinya melihat sampah mengambang atau tersangkut diantara bebatuan. Kalau kebetulan beruntung mendapat kunjungan, ada sekelompok anak2 SD yg kegirangan karena melihat kepiting merayap keluar dari sarangnya saat air Kali Ciliwung meluap karena hujan tadi malam. Ndak ada salahnya juga
untuk punya rasa berguna. Masih lebih baik itu daripada merasa tidak berguna
dan depresi. Lagi2 ini hanya refleksi diri. Yg lebih penting adalah memahami
bahwa sungai ini menampung segala macam hiruk pikuk belibetnya anak manusia yg
hidup di atasnya. Dari mulai Pak Dulah yg sehari2nya memukul2 palu memecah batu
untuk mendapatkan 120rb/colt. Atau dia yg punya projek puluhan ribu euro untuk
kerja2 yg disebut penyelamatan lingkungan. That idealisme has to be realistis. That the standard has to be
local. That NA or IWRM or other big word is meaningless, a wise things to say
but difficult to exercise. |
| Leave a Comment: |