kereteg hate







mustikasari
July 4th
Female
Bogor



bakar-bakar, biar bersih. tapi coba nyalain api di bawah pohon nira sambil nunggu orang yg lagi nge-tap air nira. hmmmm, nyam-nyam ....


kenangan masa kecil yg dicobakan kembali saat berkunjung ke Sungai Utik, Pontianak. Februari 2006.
   

<< October 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31



Suatu usaha untuk mengembangkan diri tentang bagaimana BERBAGI.
Bukan, bukan soal berbagi materi semata, hanya satu cara pandang saja yg pasti berbeda dengan cara pandang teman-teman lainnya.

Kelompok AIR:
Konservasi Sumberdaya Hutan, E.26 IPB
Vina Susanti, Ulayat Bengkulu
Eti Kartina, Ulayat Bengkulu

Beberapa dari mereka yg asyik untuk dikunjungi:
Komunitas Telapak
Dani Moenggoro
Mbilung
Sekaralas
SumukraKringetan

teman di sanggar:
Neni
Dion
Deni Boy
Miska
Ari

Orang Ngetop Negeri ini:
Gus Dur
Wimar Witoelar





Free Website Counter
Free Website Counter

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



 
Oct 26, 2009
Semua orang ingin dirinya merasa berguna

Semua orang ingin dirinya merasa berguna, baik untuk dirinya sendiri (yg kemudian kita sebut dia sebagai seorang egois), bagi keluarga dan kerabat dekatnya, bagi komunitasnya, dan yg tertinggi bagi bangsa dan negaranya. Berbagai upaya dilakukan untuk mencapai tujuan hakiki dalam hidup ini.


Bedanya tipis2 antara orang2 yg memang benar2 berguna dan menyumbang terhadap kemajuan, dengan orang2 yg ‘sepertinya’ berguna. Ada puluhan lembaga pembela rakyat dan penyelamatan lingkungan hidup. Tapi seberapa efektifkah kerja dan upaya lembaga2 ini? Ada puluhan bahkan ratusan orang yg merasa melakukan kerja volunteer untuk penyelamatan lingkungan. Tapi seberapa besar lingkungan yg terselamatkan.


Tulisan ini dibuat sebagai bahan refleksi. Terutama bagi si penulis utamanya. Yg juga seringkali kesulitan memahami apa sebetulnya kebutuhan rakyat dan orang banyak. Dan sering merasa besar kepala. Terlena dengan indahnya kerja2 donor dan travelling2 pertemuan di mancanegara, sambil tentunya sesekali berpose untuk bahan mejeng di face book.


Seorang teman begitu bangganya menjadi volunteer Al Gore untuk penyelamatan lingkungan melalui isu Climate Change. Terlepas dari kehebatannya bermain2 kata dan menyusun proposal atau form aplikasi untuk mendapatkan dukungan dana untuk trip meeting luar negeri berikutnya, sesungguhnya tidak ada yg hebat dengan apa yg mereka kerjakan. Tidak lebih baik dibanding seorang andi yg susah payah memahami dimana batas wilayah dusun cimonyetnya. Ada sebuah gap besar antara asiknya berdiskusi dengan kenyataan permasalahan di lapang yg sesungguhnya benar2 terjadi.


Sebuah presentasi yg digelar oleh ketua volunteer Al-Gore di Kuningan Jakarta minggu lalu. Katanya ada 33 tempat lain di Indonesia yg juga mengadakan presentasi yg sama. Diusulkan untuk langsung masuk dan menggunakan kelompok tani untuk pencapaian tujuan Climate Change ini. Usulan tidak diterima.


Harus diubah yg menjadi sasaran tembak kampanye jangan lagi kelompok LSM juga atau kelas menengah para peneliti yg mungkin mereka sudah paham persisnya apa dan bagaimana penyelamatan lingkungan harus dilakukan. Coba langsung masuk ke publik dan berinteraksi dengan mereka. Lihat apa yg dilakukan Kelompok Peduli Ciliwung (KPC) dengan aksi mulungnya yg dilakukan setiap minggu. Ada benar2 sejumlah karung plastik yg terangkat dari sungai Siliwung setiap minggunya. Ada beberapa orang yg langsung merasakan dinginnya air Sungai Ciliwung dan gelinya melihat sampah mengambang atau tersangkut diantara bebatuan. Kalau kebetulan beruntung mendapat kunjungan, ada sekelompok anak2 SD yg kegirangan karena melihat kepiting merayap keluar dari sarangnya saat air Kali Ciliwung meluap karena hujan tadi malam.


Ndak ada salahnya juga untuk punya rasa berguna. Masih lebih baik itu daripada merasa tidak berguna dan depresi. Lagi2 ini hanya refleksi diri. Yg lebih penting adalah memahami bahwa sungai ini menampung segala macam hiruk pikuk belibetnya anak manusia yg hidup di atasnya. Dari mulai Pak Dulah yg sehari2nya memukul2 palu memecah batu untuk mendapatkan 120rb/colt. Atau dia yg punya projek puluhan ribu euro untuk kerja2 yg disebut penyelamatan lingkungan.

That idealisme has to be realistis. That the standard has to be local. That NA or IWRM or other big word is meaningless, a wise things to say but difficult to exercise.

Posted at 11:44 am by mustikasari
Make a comment  

 
Oct 11, 2009
Hari aku tidak berhasil,

Hari aku tidak berhasil,

Hari ini aku tidak berhasil membawa diriku ke tempat mulung. Pertama jelas, bangun siang. Kedua merasa tidak enak sama orang yg lagi melakukan hajat pagi. Seperti juga kita semua, merasa perlu privacy dan ketenangan di pagi hari.


Lagi2 sepertinya aku salah. Memakai standar ku untuk diterapkan ke orang lain. Buat mu memang perlu ketenangan. Buat mereka, memang mungkin tidak ada dalam kamusnya. Ketika ‘need to go’ untuk nature calling, yah ‘go aja’. Ah masak sih. Kayaknya untuk soal basic, semua orang sama. Makanya ada istilah human right.


Orang2 itu juga malu2, larak lirik, tahu ada orang asing yg ikutan nyemplung ke sungai. Apalagi dengan maksud yg jelas berbeda dengan mereka kebanyakan. Orang mah datang ke sungai untuk membuang, sang laskar malah datang untuk mengambil. Tapi yg jadi objek juga beda kok. Mereka datang buang yg organik. Kita mulung sampah yg an-organik.

Nah justru di situ letaknya. Tidak semua dari mereka datang ke sungai untuk membuang yg organik. Puluhan tahun lalu orang tua kita membuang daun bekas makan atau potongan bekas sayur ke sungai. Karena memang waktu itu tidak ada styrofoam bungkus makanan dan tidak ada plastik pembungkus berbagai jajanan anak. Dahulu kala semuanya dari bahan ramah alam, daun pisang, daun jati, dsb. Sayangnya pola pikir nya tetap sama. Yaitu membuang ke sungai. Bisa ndak diubah sih?


Ah kayaknya cuman elo doang orang paling ribet di dunia. Entahlah. Kelamaan nongkrong dan asik dengan labirin di kepala dan berakhir dengan satu tulisan ini. Aku mengurungkan niat ku untuk pergi mulung hari ini. Telat untuk janji berikutnya.


Posted at 11:48 am by mustikasari
Make a comment  

 
Sep 30, 2009
kacung kampret dan kesenangan berkarya

Sebagian besar orang akan menjawab gaji besar di urutan pertama. Tapi tidak semua akan menjawab itu. Pada umumnya itu adalah orang yg orientasinya mencari kesenangan duniawi semata. Ada juga orang kesenangaanya dalam hidup memang berkarya. Itu saja. Walau orang awam akan berkomentar, kalo sampe kesenangannya bekerja, itu karena naluri kacung kampret-nya tinggi! :D

 

Di luar perdebatan itu, jaminan dan kepastian adanya kesejahteraan pasti didambakan semua karyawan. Sebenarnya semua orang hidup, bukan hanya pada saat resmi bekerja disebuah lembaga. Tapi juga saat kita bertamasya atau menggunakan ruang publik lainnya. Misalnya pemberian THR pada hari2 besar keagamaan saat kebutuhan sehari2 meningkat. Asuransi kesehatan sebagai jaminan ketenangan kita bekerja. Asuransi jiwa dan kesehatan untuk wisatawan Pantai Pelabuhanratu. Yg ternyata klaim dari tiket masuk kawasan pantai (biaya retribusi untuk Pendapatan Asli Daerah) tidak bisa dicairkan karena terbentur Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Kabupaten Sukabumi (berita Jurnal Bogor 29 September 2009).

 

Apakah ini suatu keluhan?

Ketua MPR Nur Wahid dalam wawancara pagi ini, mengatakan bahwa anggota MPR tidak disediakan dengan asuransi kesehatan. Dia menceritakan bagaimana pekerjaan sosialisasi undang2 yg dilakukan anggota MPR ke pelosok2 di Papua dan menyusuri sungai2 di Kalimantan. Dia juga berbagi pengalaman tidak terlupakan saat bis yg ditumpanginya hampir masuk jurang.

 

Bukan hanya anggota MPR yg merupakan sebuah pekerjaan mulia karena mereka adalah representasi rakyat dan memperjuangkan kebutuhan orang banyak. Kalau diliat2 aktivis LSM juga banyak melakukan jenis pekerjaan seperti itu. Cuman status legalnya memang Non-Government, organisasi non-pemerintah (ORNOP). Tapi kalau merujuk harapannya Prof Sajogyo saat penterjemahan NGO menjadi LSM (ato Gerakan Rakyat), memang terkandung harapan agar suatu hari kerja2 lembaga ORNOP ini dibiayai oleh rakyat. (diskusi lebih jauh soal membedakan antara LSM dan Gerakan Rakyat oleh seorang penulis artikel LSM  Erwin Basrin di http://www.facebook.com/profile.php?id=1536862919#/note.php?note_id=160712187494&ref=mf).

 

Jadi salahkah kalau kita berharap ada kepastian seperti layaknya asuransi bekerja dan sedikit tunjangan kesejahteraan saat kita berkarya? Siapa yg bertugas menyediakan fasilitas itu? Tentu saja lembaga dimana kita berkarya. Bagaimana dengan para PKL, pemulung barang bekas, petani yg secara legal formal tidak memiliki dan terdaftar pada satu kelembagaan resmi? Atau para pelancong di Pantai Pelabuhanratu? Wah yah negara yg harusnya bertanggung-jawab kalau udah rumit2 kayak begitu. Khan itu menyangkut poverty dan public service.

 

Ah ini hanya suatu kebingungan diri. Mungkin baik petunjuk dari koran Jurnal Bogor hari kemarin. Tentang bagaimana memompa semangat kerja.

Jangan menyia-nyiakan peluang. Jangan terlalu banyak memikirkan masalah uang atau penghasilan yg anda peroleh. Jauh lebih penting anda memperoleh tanggungjawab yg sesuai dengan kemampuan anda. Lalu bersungguh2 mengerjakannya. Pikirkan bagaimana anda bisa memperbaiki keadaan yang ada dalam tanggung jawab anda. Seringkali keberhasilan besar bersembunyi dibalik sebuah peluang yg kelihatannya sepele.

 

Tapi memang bukan soal besaran kompensasi yg menjadi concern ku disini. Sama seperti Pak Sukri, paman korban di Pelabuhanratu yg tidak menuntut santunan dari alokasi APBD. Tapi suatu apresiasi yg lebih bersifat manusiawi. Aku tahu banyak lembaga yg menggaji karyawannya dengan angka yg biasa2 saja atau cenderung minus. Tapi sang HRD dan direktur membicarakan semuanya secara terbuka. Mereka punya hubungan yg baik dan komunikasi terbuka.

Andai saja...

 

Bisa nggak kabur dengan anggun?

Semoga ini hanya pengaruh PMS. Atau jangan2 sindrom siklus 7 tahunan. Menjadi bosan di satu titik setelah setiap 7 tahun. Hmmm... Bedanya kali ini terasa lebih asik dengan isu yg digeluti. Dan jelas punya network yg lebih kuat. Mungkin memang waktunya mengambil tantangan yg lebih besar. Sesuatu yg dikelola sendiri. Bukan cuman jadi kacung kampret!

Posted at 11:54 am by mustikasari
Comments (2)  

 
Sep 25, 2009
Seorang teman mengingatkan untuk terus berpetualang dan menapak!

Entah apa alasan persisnya. Pokoknya kita mau aja libur panjang kali ini ngelayap keluar rumah. Plan A, jalan ke SIA lewat Batam, gagal. Ganti Plan B yg ternyata lebih seru karena melibatkan si kecil.


Fred, teman baru ku yg orang Belanda, ikut merasa senang mendengar kabar aku pergi liburan. Dia malah menawarkan kita bisa ketemuan di salah satu kota. Tidak tahu persisnya juga konsep liburan apa yg kita pakai dalam perjalanan keluarga kali ini. Si kokok jelas berbahagia. Selama dia tidak harus pergi sekolah dan bisa bermain seharian. Apalagi ini jalan sama ibu bapaknya. Bisa jajan dan nyoba makanan di luar rumah sepuasnya, termasuk menu soda gembira tentunya. Si Fred senang karena bisa jalan2. Tapi tetep ajah, dia harus memilih site apa yg harus dikunjungi, mempelajari budaya2 setempat. Bahkan juga masih berpikir tentang bagaimana memberi penjelasan yg lebih baik untuk kerja konsultasinya ke clientnya yg memang berhubungan erat dengan pemahaman budaya Indonesia. Beda juga dengan istri dan saudara2 perempuannya. Mereka jelas mau ke Bali. Tiduran seharian di pantai. Jauh dari kerja2 harian yg membosankan. Ah aku sendiri, asik aja pergi kemanapun. Selama perginya sama orang2 yg memang mau dan perlu diajak jalan.


Pilihan jalan ke beberapa titik di Jawa karena ada kesempatan. Yaitu mengkombinasikan pekerjaan dan jalan2, ngajarin anak bagaimana 'flying camp' dan berpetualang di negeri sendiri. Memang tidak sefantastik ATLANTIS The Palm di Dubai sana (http://www.atlantisthepalm.com/grandopening.aspx ).

 

Kenapa jarang bepergian?

 

Alasan klasik. Tidak ada dana untuk liburan. Tidak ada jawaban untuk ini. Capek deh...


Ada banyak peluang yg bisa kita pergunakan agar kita bisa ngelayap. Be creative! Tentu saja kepandaian mengemas dan menjual diri jelas diperlukan. Bagaimana caranya agar ada orang yg bayarin kita jalan2. Wah itu seni yg dipelajari dari sejak jaman Lawalata dulu. Memang juga ada beberapa orang yg dikaruniai bakat menjual yg brilian. Walau sesungguhnya ilmu ini bisa dipelajari juga. Apa sih yg tidak bisa.


Liburan tuh apa sih. Menggunakan waktu luang untuk hal yg menyenangkan hati. Pada umumnya kegiatan diluar rutinitas kerja. Ada banyak orang melihat bekerja sebagai suatu yg menyenangkan. Dan tidak melulu melihat itu sebagai suatu beban pekerjaan. Liburan tidak melulu harus menginap di hotel berbintang dan makan di tempat yg mewah. Bisa saja dengan cara membawa baju seperlunya, tidak ada perencanaan ketat, terbuka terhadap segala kemungkinan. Tentu saja diperlukan knowledge yg cukup atas daerah yg dituju. Yah yg paling enak memang memilih pergi sama orang yg pengalaman dan memiliki koneksi dengan daerah atau isu yg kita mau tuju.


Pendidikan Alternatif

Aku curiga. Pengaruh pendidikan yg tidak memperbolehkan kita untuk membebaskan isi kepala maka hasilnya seperti ini. Mungkin ada baiknya pendidikan alternatif seperti yg banyak dikembangkan teman2 di daerah. Pendidikan Alternatif Qaryah Thayyibah oleh Ahmad Bahruddin di beberapa desa di Salatiga. Sebuah materi pendidikan yg menekankan pada goal setting potensi anak dengan cara memberikan kebebasan intelegen anak. Jln Ja'far Shodiq 36 Kalibening Tingkir Kota Salatiga. Phone (0298) 311438.qaryah-thayyibah-university


Kemaren sempet juga jalan2 mengunjungi satu dari 11 titik dimana Pendidikan Alternatif Qaryah Thayyibah dikembangkan. Pak Tafa dan istrinya yg menjadi ujung tombak. Serikat Paguyuban Petani dimana Pak Tafa menjadi ketua di Desa Susukan, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Boyolali ini. Ada divisi pendidikan yg memberi perhatian untuk anak2 para petani. Yg kemudian istrinya yg lulusan IKIP Biologi menjadi guru utama.


Life skill untuk Paket B (setingkat SMP). Sedangkan untuk Paket C (setingkat SMA) diarahkan agar siswa memiliki satu keahlian enterprenership tertentu. Mereka sendiri yg menentukan apa bidang yg ingin digeluti. Tidak ada biaya. Dosen tamu mereka adalah para pegawai pemerintah dari berbagai institusi. Wakil utusan LP Penjara, Pegawai KUA, dari Dinas Pertanian dsb. Sehari2 mereka bebas mau ngapain. Mereka hanya belajar mata ajaran yg akan diujian negara saja. Ngobrol dengan kedua orang pentolan ini, jauh dari hiruk pikuk dan kejar target para guru2 SD pengajar privat.


Sedih melihat data dephub yg menuliskan betapa kecilnya proporsi jumlah pesawat terbang yg akan beroperasi saat musim lebaran ini dengan total jumlah penduduk Indonesia. Jauh banget. Juga melihat bagaimana orang Indonesia sendiri sangat jarang untuk pergi melancong. Bahkan ke desa2 yg jelas2 tidak mahal biaya hidupnya. Tidak ada orang berduyun2 mau tinggal selama 3 bulan di desa. Hanya sekedar rekreasi menikmati hamparan sawah dan kerja kerasnya petani. Semua orang pengennya pergi ke Singapore atau Dubai.


ATLANTIS The Palm Dubai

 

Posted at 08:01 pm by mustikasari
Make a comment  

 
Aug 25, 2009
user friendly atau friend friendly
Pernah terbayangkah kalau kelompok komunitas tempat kita hidup berubah ke arah yg tidak kita kehendaki. yg semula guyub, akrab layaknya pertemanan, menjadi garing, kering seadanya, minimalis. yg tadinya 'friend friendly' menjadi 'user friendly'.

kenapa hal itu bisa terjadi. salah satunya adalah perubahan kelembagaan. sebuah intervensi ampuh. perubahan sendiri bukanlah sesuatu yg perlu ditakuti. karena memang yg tidak akan berubah adalah terjadinya perubahan itu sendiri.

kenapa juga repot mikirin sesuatu yg sudah pasti adanya. karena intervensi kelembagaan atau kehadiran sebuah sistem baru bisa direncanakan dengan baik designnya. termasuk antisipasi jika terjadi sesuatu yg luput dari pengamatan. tujuannya yah agar perubahan yg kita idam-idamkan itu sesuai dan menjadi jalan pencapaian cita2.

bagaimana kalau dibiarkan meradang begitu saja. banyak juga organisasi yg pemimpinnya memilih jalan itu. pembiaran terkadang ada baiknya, jika tahu waktunya.

dengan sikap friend friendly, maka kesulitan bisa dihadapi bersama, dibicarakan dan dicari solusi. dan tidak berakhir dengan suudzon, menggerutu, ngarasula, dendam pribadi, barisan sakit hati. yg tentu tidak menguntungkan buat semua.

kalau saja ngobrol dan jalur komunikasi semudah itu.

Posted at 08:15 pm by mustikasari
Comment (1)  

 
Aug 23, 2009
puasa dan penahanan diri (menalar tuhan)
hari kedua puasa ramadhan 1430 H. suara orang mengaji sudah terdengar sejak sore tadi. dilanjutkan dengan keriangan anak2 yg sedang sanlat (pesantren kilat) bersemangat karena diberi kesempatan berteriak dengan mikropone di tangan. tidak berhenti di situ, suara speaker di mesjid di RT kami terus bergemeruh. seseorang memberi ceramah singkat sebelum salat tarawih dilaksanakan. yg tentu saja tidak kalah kerasnya.

orang itu menganjurkan agar kita tidak berkumur2 saat kita sedang melakukan puasa. siapa tahu ada yg ketelen. kita tidak pernah tahu bagaimana seharusnya menahan diri. jadi lebih baik tidak dilakukan. sebuah pilihan aksi yg underestimate kemampuan diri, menurutku.

puasa tuh menahan diri. anehnya, sang pembicara itu mengenalkan diri dan membanggakan diri dengan sangat lantang di forum tarawih, pake speaker pula. nama saya john doe. kemudian orang memanggil dan menambahkan ustad di depan nama saya. mungkin memang benar begitu adanya. tapi apakah perlu diumumkan sekeras itu. sedangkan kumur2 yg menjadi urutan wudhu saja, dia sarankan untuk tidak dilakukan.
Posted at 08:32 pm by mustikasari
Make a comment  

 
Aug 20, 2009
Inikah yg namanya gerakan sosial? Kasus kawan yg berjiwa social enterprenership

Hari Kami (20/8/09) saya berkesempatan mengunjungi seorang kawan di daerah Leuwiliang. Sebuah lokasi di seputaran kota kecamatan Leuwiliang yg segera akan pemekaran berubah menjadi Kabupaten Bogor Utara.


Perjalanan dari Bogor melewati TPA (tempat pembuangan sambah) Galuga yg sedang bermasalah dan melihat tenda2 yg dibangun masyarakat yg sedang demo. Sepi sih di dalam tenda2 itu. Hanya tulisan pilok bernada provokatif terlihat diatas kain putih digelar di pinggir jalan, yg terlihat mencolok.


Lokasi diantara pasar Leuwiliang lama dan Pasar Leuwiliang Baru. 14 km dari Bukit Ciampea yg bukit karangnya mengingatkan jaman Lawalata dulu. Ada plang PTPN XII Cianten yg membawa kami ke rumah sang kawan. Rumah asri di sebelah gerbang Perumahan Bukit Sakinah yg seperti terbengkalai tidak terurus.


Suguhan pisang goreng yg rasanya lebih manis dibanding tukang gorengan biasanya. Dia bercerita tentang tanaman jeruk organik yg ada di halaman depan yg mampu menyuplai jeruk ke kedai Telapak. Kami diajak ke halaman belakang yg cukup luas. Ada kolam ikan yg tidak sempat terurus. Semilir angin dari arah pesawahan yg terletak tepat di sebelah rumah membuat suasana asri pedesaan di rumah.


Dia bercerita ada seorang kawannya baru saja membeli sebidang lahan 400m2 seharga 8 juta rupiah. Ada pohon duku dan duren di atas lahan itu. Penjualan tanah kebun marak di daerah ini. Kalau lagi mujur kita bisa mendapatkan lahan kebun dengan tanaman buah2an di atasnya dengan harga yg miring, ujarnya bersemangat.


30 menit berkendara menuju kumbung jamur. Di bawah sana terlihat Sungai Cianten yg aliran airnya sedang surut. Sungai ini merupakan anak Sungai Cisadane. Terdapat sebuah pembangkit listrik INDONESIA POWER yg katanya tidak banyak berfungsi saat ini. Karena aliran air tidak cukup besar untuk menggerakan turbin. Ada berapa banyak electricity plant yg dibangun projek POWER ini, yg terbengkalai karena tidak cukupnya pasokan air?


Karena jalan sedang diperbaiki, kami harus berjalan 2 km untuk menuju lokasi. Melewati bukit kebun jeunjing dan kebun duku. Pemandangan yg menyedihkan melihat 4 tunggul pohon duku yg habis ditebang. Tidak ada lagi bibit baru ditanam. Kawanku marah sekali karena pola seperti ini. Biasanya mereka menebang begitu saja dan tidak berterimakasih kepada kakek buyutnya yg menanam pohon2 ini.


Kami juga melewati setidaknya 4 buah sawmill di sepanjang jalan menuju kumbung ini. Di atas sana masih banyak lagi. Keberadaan sawmil menguntungkan buat petani jamur karena serbuk gergaji adalah media yg baik untuk jamur tiram. Tapi tentu saja ada lebih banyak limbah kayu terbuang begitu saja.


Di kumbung jamur yg investasi kerjanya sudah mencapai 70 juta ini, kita dikenalkan pada proses produksi juga organisasi produksinya. Seperti ruangan2 yg ada dan fungsinya, juga cerita seputaran pembangunan kumbung baru karena mereka baru saja merobohkan kumbung yg mereka bangun 5 tahun lalu. Ada setidaknya 10 orang yg sibuk bekerja di kumbung itu. Dari yg mulai memindahkan polibag jamur, pemanenan dan packing juga transporting produk.


Di bukit dimana kumbung jamur itu berada, dipenuhi tanaman teh. Beberapa waktu lalu, perkebunan teh Cianten berproduksi baik. Sayang saat ini mengalami kemunduran usaha. Beberapa pekerja kebun teh, ikut2an menanami lahannya dengan pohon teh. Saat ini mereka biarkan pohon2 teh itu begitu saja. Yg kemudian mengilhami sang kawan untuk mengolah dan mengemas teh tersebut dan diberi label ‘wild tea’. Cerdas memang!

 

Inilah gambar seorang anggota Telapak yg berjiwa social enterprenership. Dia bisa melihat peluang apa yg ada di sekitaran rumahnya. Menggabungkannya dengan interest diri, melakukan beberapa tahapan aksi, dan boom...lihat hasilnya. Sejumlah keluarga tergantung terhadap kumbung dan pendapatan mereka naik. Sang kawan itu juga menjadi terasah keterampilannya. Baik ketrampilan manajemen pengelolaan orang, manajemen keuangan. Begitu juga pemahaman tentang lingkungan sekitar. Pola perubahan kehidupan masyarakat yg hanya gemar menebang tanpa mau menanam, pola penanaman yg sembarang saja tidak beraturan, keinginan masyarakat atas motor dan hp baru, perubahan harga tanah karena adanya isu pemekaran, sampai ke organisasi P3A pengguna air dan kesulitan sampah limbahan dari pasar yg dihadapi mereka.


Inikah mungkin yg bisa kita sebut sebuah gerakan sosial yg dilakukan dari tingkat bawah. Apa sudah kerja nyatamu untuk lingkungan sekitarmu?

Posted at 11:43 am by mustikasari
Make a comment  

 
Jun 29, 2009
Pendaftaran Masuk Sekolah

Rumit? Ndak juga. Tapi apa yah ...


Datang ke SD untuk menjemput Cad. Dia segera memberikan NEM asli dan beberapa lembar copian yg sudah dilegalisir.

Pake map kuning bu, kata seorang lelaki paruh baya yg sedang sibuk menulis. Ada dua formulir yg dengan manual dia tulis tangan. Aku pun bergegas mencari tukang potocopian. Sukurlah sekolah ini punya koperasi yg siap menjual map dan ATK lainnya. Segera kumasukkan semua persyaratan yg memang sudah disiapkan. Dan duduk manis menunggu.


Tidak lebih dari satu jam, nama sang anak dipanggil. Aku kelebihan memasukkan poto. Kulihat Bapak itu mengisi dua formulir, dan memeriksa kelengkapan syarat. Surat pendaftaran dari sekolah, Surat Kelakuan Baik (juga dari sekolah), Surat Keterangan Anak Didik (juga dari sekolah), NEM Asli dan legalisir dan poto.


Ibu di sebelahnya menuliskan nama anak dan keterangan lainnya ke dalam sebuah tabel. Lagi-lagi ditulis tangan. Kagum aku betapa pembodohan dan inefisiensi kami pelihara dengan baik dan sungguh-sungguh. Ada lagi seorang Bapak yg menempelkan poto ke atas dua formulir, di cap, dan segera diberikan ke sang pendaftar. Ujian tes masuk SMP tgl 6 dan 7 Juli.


Selesailah tugas formal hari ini, mendaftarkan anak sekolah.

Semoga saja Cad keterima.

Posted at 04:25 pm by mustikasari
Make a comment  

 
Mar 5, 2009
Braided and Meandering Pengertian Teknikal Sungai

Ada banyak alasan kenapa kita mesti paham istilah dan konsep seputaran sungai. Yah setidaknya kita akrab lah. Karena kalo untuk mendalami, tentu harus ahlinya. Berikut beberapa istilah yg kita dapat dari dua pertemuan capacity building IWRM.

 

Sungai-sungai besar berkelok-kelok (meander) melewati dataran rendah pesisir.

Sungai-sungai ”kepang” (braided rivers) dataran banjir dan teras-terasnya.

 

braided and meandering adalah istilah teknik sungai. Yaitu bagaimana kondisi badan sungai. Braided tuh istilah untuk sungai yg alirannya lurus. Umumnya terjadi di bagian hulu sungai. Sedang meandering adalah istilah untuk sungai yg berkelok-kelok. Untuk setiap kondisi sungai diperlukan perlakuan yg berbeda.


Penting buat kita mengetahui istilah2 ini. Tentu saja orang2 dari pengairan dan Departemen PU yg paling tahu. Tapi kalau kita juga sedikit memahami kondisi alam ini, kita bisa ikut memahami kenapa ada projek2 infrastruktur seperti yg selama ini terjadi.


Projek normalisasi sungai adalah usaha untuk meluruskan sungai yg bentuknya meandering (berkelok-kelok). Jelas akan ada pengaruh terhadap keseluruhan ekosistem jika normalisasi sungai dilakukan. Terutama mempengaruhi bagian hilir dan bagian tengah DAS.


Projek normalisasi sungai adalah projek besar. Ada banyak biaya yg dibutuhkan. Dan sepertinya donor banyak memberi pinjaman untuk projek2 seperti ini. Masih harus dicari, berapa banyak projek normalisasi sungai yg terjadi di Indonesia. Dan kenapa projek normalisasi tetap dilaksanakan jika dampak negatifnya lebih besar dibanding keuntungannya?


Contoh Sungai ‘kepang’ (braided) di DAS Ocona, Arequipa, Peru.

 

Konsep2 dan fenomena lain seputaran sungai. Biasanya kita tidak menganggap informasi ini penting. Mungkin karena tidak paham apa korelasinya dengan pengelolaan sungai. Sekarang bisa lebih hati2 jika mendengar informasi seperti ini.

Posted at 02:05 pm by mustikasari
Make a comment  

 
Feb 26, 2009
Dewan Air, Forum DAS, dan Mancing Ikan Sapu-sapu di Sungai Ciliwung

Lagi-lagi sebuah pertemuan soal DAS Ciliwung Cisadane berhasil diadakan di Hotel Salak. Ciliwung-Cisadane Watershed Governance (C2WG) begitu tertulis di spanduk di depan podium. Beberapa utusan dari berbagai instansi di bawah Departemen Kehutanan hadir dalam acara yg diberi judul FGD (focus group discussion) ini. Juga beberapa LSM yg memang punya kerjaan di sekitaran DAS Ciliwung atau yg memang punya concern di sana.


Ada banyak ide bertebaran. Namanya juga FGD. Dengan gaya moderator yg nembak-nembak, untuk mengisi waktu karena para pembicara yg sudah didesain di daftar acara belum pada hadir, tapi malah membuat acara diskusi jadi menarik menurutku. Walau ada juga orang protes karena bingung, merasa tujuan pertemuan ini tidak jelas. Mungkin bagian awal ini memang diperuntukkan brainstorming alias curah pendapat. Jadi orang bebas-bebas aja berpendapat dan menceritakan apa saja seputaran DAS Ciliwung, sesuai arahan dan permintaan sang moderator. Dari mulai presentasi 'business as usual', gaya peneliti dengan konsep-konsep made in luar negeri sustainable development (pembangunan berkelanjutan), atau gaya aksi teknologi tepat guna untuk isu daya guna air seperti pemanfaatan aliran sungai untuk pembangkit listrik yg memang sangat menarik.


Walau ditarik kanan-kiri, sebetulnya tujuan semua yg hadir di sini adalah sama. Baik dia dari pemerintahan atau LSM. Baik dia datang ke sini karena perintah atasan atau memang panggilan hati nurani atau kombinasi antara keduanya. Kita pengen liat Ciliwung berfungsi seperti layaknya sebuah ekosistem sungai yg baik, bersih dan semua orang bisa mendapat keuntungan darinya. Itu saja.


Tidak salah kalau seorang teman berkata lantang. Buat saya yg penting adalah aksi lokal. Dia mengingatkan agar kita jangan sampai terjebak lagi ke dalam apa yg disebut KONGRES. Kongkow teu beres-beres (nongkrongin dan berkutat dengan sesuatu tapi tidak ada juga yg dihasilkan). Kerinduannya untuk bisa menyalurkan hobinya, memancing di Kali Ciliwung sungguh terdengar dari nada suaranya. Keprihatinannya karena selama ini hanya ikan sapu-sapu yg bisa didapat, 'menunjukkan rendahnya kualitas air tuh kali', ujarnya.


Oleh karenanya dia mengajak sesuatu yg nyata-nyata saja. Dua minggu lagi kita akan bersihkan sampah di Sungai Ciliwung. 'Ayo kita semua yg bisa dan mau turut serta, kita bersihkan tuh sampah yg ada di kali'.


Tidak semua orang sepakat dengan aksi nyata seperti ini. Beberapa peserta masih 'keukeuh' bertahan dengan pendapat bahwa membereskan kelembagaan perlu dilakukan untuk mewadahi segala kekompleksan masalah. Dorongan untuk membentuk sebuah Forum DAS Ciliwung pun tergulir. Suatu inisiatif yg tidak baru. Karena beberapa waktu wadah koordinasi sebangsa forum ini sudah pernah dicoba digagas. Tapi sayang tidak berjalan mulus, kata seorang pejabat pemerintah yg berwenang mengurus DAS. 'Pada akhirnya hanya LSM juga yg akhirnya tertinggal di forum ini'.


Sudah ada banyak forum dibentuk, yg harapannya mampu menjadi wadah koordinasi untuk ngurusin DAS. Ada Forum Cidanau di Provinsi Banten yg dikenal dengan pembayaran hulu-hilir, Forum DAS DKI yg katanya baru terbentuk, Forum DAS Ciliwung yg pernah ada tapi kemudian tidak terdengar lagi, ada FORUM DAS Nasional. 


Tidak kalah seru karena diskusi menyebut soal kelembagaan lain yg baru-baru ini juga sedang naik daun diperbincangkan seputaran isu pengelolaan air. Bagaimana keterkaitan antara keberadaan Dewan Air dengan Forum DAS? Apakah Pasal 87 ayat 2 dan 3 bisa menjadi dasar untuk pembentukan wadah koordinasi seperti ini? Apakah kita benar-benar ingin membentuk kelembagaan yg kredibel untuk pengelolaan sebuah daerah aliran sungai dengan batas-batas alami, dan bukan atas dasar unit manajemen atau batas administrasi wilayah? Apakah pengelolaan badan sungai dan daerah tangkapan air (catchment area) di DAS Ciliwung ini yg notabene dikelola dibawah dua departemen yg berbeda, bisa diintegrasikan? Overlapnya dimana? Apakah Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan Sumberdaya Air No 42 tahun 2008 bisa memfasilitasi pengelolaan air yg terintegrasi? Sepertinya tidak terlalu banyak juga yg berminat untuk merespon poin ini atau karena hari sudah menjelang sore.


Dan diskusi tentang keterkaitan antara land and water terus berlanjut.


Tentu saja kita tidak berkecil hati karena ada lebih banyak pertanyaan dibanding jawaban dalam pertemuan kali ini. Atau mungkin ada benarnya juga yg seperti ini disebut KONGRES seperti kawan satu itu bilang. Karena sesaat sesudah bubaran diskusi, Kali Ciliwung tetap saja kotor seperti itu.

 

Lampiran.

Pasal 87, UU Air No 7 tahun 2004

Ayat 2. Untuk pelaksanaan koordinasi pada tingkat kabupaten/kota dapat dibentuk wadah koordinasi dengan nama dewan sumber daya air kabupaten/kota atau dengan nama lain oleh pemerintah kabupaten/kota.

 

Ayat 3. Wadah koordinasi pada wilayah sungai dapat dibentuk sesuai dengan kebutuhan pengelolaan sumberdaya air pada wilayah sungai yg bersangkutan.

Posted at 10:55 am by mustikasari
Make a comment  

Next Page