Suatu usaha untuk mengembangkan diri tentang bagaimana BERBAGI. Bukan, bukan soal berbagi materi semata, hanya satu cara pandang saja yg pasti berbeda dengan cara pandang teman-teman lainnya.
Semua orang
ingin dirinya merasa berguna,
baik untuk dirinya sendiri (yg kemudian kita sebut dia sebagai seorang egois),
bagi keluarga dan kerabat dekatnya, bagi komunitasnya, dan yg tertinggi bagi bangsa
dan negaranya. Berbagai upaya dilakukan untuk mencapai tujuan hakiki dalam
hidup ini.
Bedanya tipis2 antara
orang2 yg memang benar2 berguna dan menyumbang terhadap kemajuan, dengan orang2
yg ‘sepertinya’ berguna. Ada puluhan lembaga pembela rakyat dan penyelamatan
lingkungan hidup. Tapi seberapa efektifkah kerja dan upaya lembaga2 ini? Ada puluhan
bahkan ratusan orang yg merasa melakukan kerja volunteer untuk penyelamatan
lingkungan. Tapi seberapa besar lingkungan yg terselamatkan.
Tulisan ini dibuat
sebagai bahan refleksi. Terutama bagi si penulis utamanya. Yg juga seringkali
kesulitan memahami apa sebetulnya kebutuhan rakyat dan orang banyak. Dan sering
merasa besar kepala. Terlena dengan indahnya kerja2 donor dan travelling2
pertemuan di mancanegara, sambil tentunya sesekali berpose untuk bahan mejeng
di face book.
Seorang teman begitu
bangganya menjadi volunteer Al Gore untuk penyelamatan lingkungan melalui isu
Climate Change. Terlepas dari kehebatannya bermain2 kata dan menyusun proposal
atau form aplikasi untuk mendapatkan dukungan dana untuk trip meeting luar negeri
berikutnya, sesungguhnya tidak ada yg hebat dengan apa yg mereka kerjakan. Tidak
lebih baik dibanding seorang andi yg susah payah memahami dimana batas wilayah
dusun cimonyetnya. Ada sebuah gap besar antara asiknya berdiskusi dengan
kenyataan permasalahan di lapang yg sesungguhnya benar2 terjadi.
Sebuah presentasi yg
digelar oleh ketua volunteer Al-Gore di Kuningan Jakarta minggu lalu. Katanya ada
33 tempat lain di Indonesia yg juga mengadakan presentasi yg sama. Diusulkan untuk
langsung masuk dan menggunakan kelompok tani untuk pencapaian tujuan Climate
Change ini. Usulan tidak diterima.
Harus diubah yg menjadi
sasaran tembak kampanye jangan lagi kelompok LSM juga atau kelas menengah para
peneliti yg mungkin mereka sudah paham persisnya apa dan bagaimana penyelamatan
lingkungan harus dilakukan. Coba langsung masuk ke publik dan berinteraksi
dengan mereka. Lihat apa yg dilakukan Kelompok Peduli Ciliwung (KPC) dengan
aksi mulungnya yg dilakukan setiap minggu. Ada benar2 sejumlah karung plastik
yg terangkat dari sungai Siliwung setiap minggunya. Ada beberapa orang yg
langsung merasakan dinginnya air Sungai Ciliwung dan gelinya melihat sampah
mengambang atau tersangkut diantara bebatuan. Kalau kebetulan beruntung
mendapat kunjungan, ada sekelompok anak2 SD yg kegirangan karena melihat
kepiting merayap keluar dari sarangnya saat air Kali Ciliwung meluap karena
hujan tadi malam.
Ndak ada salahnya juga
untuk punya rasa berguna. Masih lebih baik itu daripada merasa tidak berguna
dan depresi. Lagi2 ini hanya refleksi diri. Yg lebih penting adalah memahami
bahwa sungai ini menampung segala macam hiruk pikuk belibetnya anak manusia yg
hidup di atasnya. Dari mulai Pak Dulah yg sehari2nya memukul2 palu memecah batu
untuk mendapatkan 120rb/colt. Atau dia yg punya projek puluhan ribu euro untuk
kerja2 yg disebut penyelamatan lingkungan.
That idealisme has to be realistis. That the standard has to be
local. That NA or IWRM or other big word is meaningless, a wise things to say
but difficult to exercise.
Hari ini aku tidak
berhasil membawa diriku ke tempat mulung. Pertama jelas, bangun siang. Kedua
merasa tidak enak sama orang yg lagi melakukan hajat pagi. Seperti juga kita
semua, merasa perlu privacy dan ketenangan di pagi hari.
Lagi2 sepertinya aku
salah. Memakai standar ku untuk diterapkan ke orang lain. Buat mu memang perlu
ketenangan. Buat mereka, memang mungkin tidak ada dalam kamusnya. Ketika ‘need
to go’ untuk nature calling, yah ‘go aja’. Ah masak sih. Kayaknya untuk soal
basic, semua orang sama. Makanya ada istilah human right.
Orang2 itu juga malu2,
larak lirik, tahu ada orang asing yg ikutan nyemplung ke sungai. Apalagi dengan
maksud yg jelas berbeda dengan mereka kebanyakan. Orang mah datang ke sungai
untuk membuang, sang laskar malah datang untuk mengambil. Tapi yg jadi objek
juga beda kok. Mereka datang buang yg organik. Kita mulung sampah yg
an-organik.
Nah justru di situ
letaknya. Tidak semua dari mereka datang ke sungai untuk membuang yg organik.
Puluhan tahun lalu orang tua kita membuang daun bekas makan atau potongan bekas
sayur ke sungai. Karena memang waktu itu tidak ada styrofoam bungkus makanan
dan tidak ada plastik pembungkus berbagai jajanan anak. Dahulu kala semuanya
dari bahan ramah alam, daun pisang, daun jati, dsb. Sayangnya pola pikir nya
tetap sama. Yaitu membuang ke sungai. Bisa ndak diubah sih?
Ah kayaknya cuman elo
doang orang paling ribet di dunia. Entahlah. Kelamaan nongkrong dan asik dengan
labirin di kepala dan berakhir dengan satu tulisan ini. Aku mengurungkan niat
ku untuk pergi mulung hari ini. Telat untuk janji berikutnya.
Sebagian besar orang akan
menjawab gaji besar di urutan pertama. Tapi tidak semua akan menjawab itu. Pada
umumnya itu adalah orang yg orientasinya mencari kesenangan duniawi semata. Ada
juga orang kesenangaanya dalam hidup memang berkarya. Itu saja. Walau orang
awam akan berkomentar, kalo sampe kesenangannya
bekerja, itu karena naluri kacung kampret-nya tinggi! :D
Di luar perdebatan itu, jaminan
dan kepastian adanya kesejahteraan pasti didambakan semua karyawan. Sebenarnya semua
orang hidup, bukan hanya pada saat resmi bekerja disebuah lembaga. Tapi juga
saat kita bertamasya atau menggunakan ruang publik lainnya. Misalnya pemberian
THR pada hari2 besar keagamaan saat kebutuhan sehari2 meningkat. Asuransi kesehatan
sebagai jaminan ketenangan kita bekerja. Asuransi jiwa dan kesehatan untuk
wisatawan Pantai Pelabuhanratu. Yg ternyata klaim dari tiket masuk kawasan
pantai (biaya retribusi untuk Pendapatan Asli Daerah) tidak bisa dicairkan
karena terbentur Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Kabupaten Sukabumi
(berita Jurnal Bogor 29 September 2009).
Apakah ini suatu keluhan?
Ketua MPR Nur Wahid dalam
wawancara pagi ini, mengatakan bahwa anggota MPR tidak disediakan dengan asuransi
kesehatan. Dia menceritakan bagaimana pekerjaan sosialisasi undang2 yg
dilakukan anggota MPR ke pelosok2 di Papua dan menyusuri sungai2 di Kalimantan.
Dia juga berbagi pengalaman tidak terlupakan saat bis yg ditumpanginya hampir
masuk jurang.
Bukan hanya anggota MPR
yg merupakan sebuah pekerjaan mulia karena mereka adalah representasi rakyat
dan memperjuangkan kebutuhan orang banyak. Kalau diliat2 aktivis LSM juga
banyak melakukan jenis pekerjaan seperti itu. Cuman status legalnya memang
Non-Government, organisasi non-pemerintah (ORNOP). Tapi kalau merujuk harapannya
Prof Sajogyo saat penterjemahan NGO menjadi LSM (ato Gerakan Rakyat), memang
terkandung harapan agar suatu hari kerja2 lembaga ORNOP ini dibiayai oleh
rakyat. (diskusi lebih jauh soal membedakan antara LSM dan Gerakan Rakyat oleh
seorang penulis artikel LSM Erwin Basrin
di http://www.facebook.com/profile.php?id=1536862919#/note.php?note_id=160712187494&ref=mf).
Jadi salahkah kalau kita
berharap ada kepastian seperti layaknya asuransi bekerja dan sedikit tunjangan
kesejahteraan saat kita berkarya? Siapa yg bertugas menyediakan fasilitas itu? Tentu
saja lembaga dimana kita berkarya. Bagaimana dengan para PKL, pemulung barang
bekas, petani yg secara legal formal tidak memiliki dan terdaftar pada satu kelembagaan
resmi? Atau para pelancong di Pantai Pelabuhanratu? Wah yah negara yg harusnya
bertanggung-jawab kalau udah rumit2 kayak begitu. Khan itu menyangkut poverty
dan public service.
Ah ini hanya suatu
kebingungan diri. Mungkin baik petunjuk dari koran Jurnal Bogor hari kemarin. Tentang
bagaimana memompa semangat kerja.
Jangan menyia-nyiakan peluang. Jangan terlalu banyak memikirkan masalah uang
atau penghasilan yg anda peroleh. Jauh
lebih penting anda memperoleh tanggungjawab yg sesuai dengan kemampuan anda.
Lalu bersungguh2 mengerjakannya. Pikirkan bagaimana anda bisa memperbaiki
keadaan yang ada dalam tanggung jawab anda. Seringkali keberhasilan besar
bersembunyi dibalik sebuah peluang yg kelihatannya sepele.
Tapi memang bukan soal besaran
kompensasi yg menjadi concern ku disini. Sama seperti Pak Sukri, paman korban
di Pelabuhanratu yg tidak menuntut santunan dari alokasi APBD. Tapi suatu apresiasi yg lebih bersifat manusiawi. Aku
tahu banyak lembaga yg menggaji karyawannya dengan angka yg biasa2 saja atau
cenderung minus. Tapi sang HRD dan direktur membicarakan semuanya secara
terbuka. Mereka punya hubungan yg baik dan komunikasi terbuka.
Andai saja...
Bisa nggak kabur dengan
anggun?
Semoga ini hanya pengaruh
PMS. Atau jangan2 sindrom siklus 7 tahunan. Menjadi bosan di satu titik setelah
setiap 7 tahun. Hmmm... Bedanya kali ini terasa lebih asik dengan isu yg
digeluti. Dan jelas punya network yg lebih kuat. Mungkin memang waktunya
mengambil tantangan yg lebih besar. Sesuatu yg dikelola sendiri. Bukan cuman
jadi kacung kampret!
Seorang teman mengingatkan untuk terus berpetualang dan menapak!
Entah apa alasan persisnya. Pokoknya kita mau aja libur panjang kali ini ngelayap keluar rumah. Plan A, jalan ke SIA lewat Batam, gagal. Ganti Plan B yg ternyata lebih seru karena melibatkan si kecil.
Fred, teman baru ku yg orang Belanda, ikut merasa senang mendengar kabar aku pergi liburan. Dia malah menawarkan kita bisa ketemuan di salah satu kota. Tidak tahu persisnya juga konsep liburan apa yg kita pakai dalam perjalanan keluarga kali ini. Si kokok jelas berbahagia. Selama dia tidak harus pergi sekolah dan bisa bermain seharian. Apalagi ini jalan sama ibu bapaknya. Bisa jajan dan nyoba makanan di luar rumah sepuasnya, termasuk menu soda gembira tentunya. Si Fred senang karena bisa jalan2. Tapi tetep ajah, dia harus memilih site apa yg harus dikunjungi, mempelajari budaya2 setempat. Bahkan juga masih berpikir tentang bagaimana memberi penjelasan yg lebih baik untuk kerja konsultasinya ke clientnya yg memang berhubungan erat dengan pemahaman budaya Indonesia. Beda juga dengan istri dan saudara2 perempuannya. Mereka jelas mau ke Bali. Tiduran seharian di pantai. Jauh dari kerja2 harian yg membosankan. Ah aku sendiri, asik aja pergi kemanapun. Selama perginya sama orang2 yg memang mau dan perlu diajak jalan.
Pilihan jalan ke beberapa titik di Jawa karena ada kesempatan. Yaitu mengkombinasikan pekerjaan dan jalan2, ngajarin anak bagaimana 'flying camp' dan berpetualang di negeri sendiri. Memang tidak sefantastik ATLANTIS The Palm di Dubai sana (http://www.atlantisthepalm.com/grandopening.aspx ).
Kenapa jarang bepergian?
Alasan klasik. Tidak ada dana untuk liburan. Tidak ada jawaban untuk ini. Capek deh...
Ada banyak peluang yg bisa kita pergunakan agar kita bisa ngelayap. Be creative! Tentu saja kepandaian mengemas dan menjual diri jelas diperlukan. Bagaimana caranya agar ada orang yg bayarin kita jalan2. Wah itu seni yg dipelajari dari sejak jaman Lawalata dulu. Memang juga ada beberapa orang yg dikaruniai bakat menjual yg brilian. Walau sesungguhnya ilmu ini bisa dipelajari juga. Apa sih yg tidak bisa.
Liburan tuh apa sih. Menggunakan waktu luang untuk hal yg menyenangkan hati. Pada umumnya kegiatan diluar rutinitas kerja. Ada banyak orang melihat bekerja sebagai suatu yg menyenangkan. Dan tidak melulu melihat itu sebagai suatu beban pekerjaan. Liburan tidak melulu harus menginap di hotel berbintang dan makan di tempat yg mewah. Bisa saja dengan cara membawa baju seperlunya, tidak ada perencanaan ketat, terbuka terhadap segala kemungkinan. Tentu saja diperlukan knowledge yg cukup atas daerah yg dituju. Yah yg paling enak memang memilih pergi sama orang yg pengalaman dan memiliki koneksi dengan daerah atau isu yg kita mau tuju.
Pendidikan Alternatif
Aku curiga. Pengaruh pendidikan yg tidak memperbolehkan kita untuk membebaskan isi kepala maka hasilnya seperti ini. Mungkin ada baiknya pendidikan alternatif seperti yg banyak dikembangkan teman2 di daerah. Pendidikan Alternatif Qaryah Thayyibah oleh Ahmad Bahruddin di beberapa desa di Salatiga. Sebuah materi pendidikan yg menekankan pada goal setting potensi anak dengan cara memberikan kebebasan intelegen anak.Jln Ja'far Shodiq 36 Kalibening Tingkir Kota Salatiga. Phone (0298) 311438.qaryah-thayyibah-university
Kemaren sempet juga jalan2 mengunjungi satu dari 11 titik dimana Pendidikan Alternatif Qaryah Thayyibah dikembangkan. Pak Tafa dan istrinya yg menjadi ujung tombak. Serikat Paguyuban Petani dimana Pak Tafa menjadi ketua di Desa Susukan, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Boyolali ini. Ada divisi pendidikan yg memberi perhatian untuk anak2 para petani. Yg kemudian istrinya yg lulusan IKIP Biologi menjadi guru utama.
Life skill untuk Paket B (setingkat SMP). Sedangkan untuk Paket C (setingkat SMA) diarahkan agar siswa memiliki satu keahlian enterprenership tertentu. Mereka sendiri yg menentukan apa bidang yg ingin digeluti. Tidak ada biaya. Dosen tamu mereka adalah para pegawai pemerintah dari berbagai institusi. Wakil utusan LP Penjara, Pegawai KUA, dari Dinas Pertanian dsb. Sehari2 mereka bebas mau ngapain. Mereka hanya belajar mata ajaran yg akan diujian negara saja. Ngobrol dengan kedua orang pentolan ini, jauh dari hiruk pikuk dan kejar target para guru2 SD pengajar privat.
Sedih melihat data dephub yg menuliskan betapa kecilnya proporsi jumlah pesawat terbang yg akan beroperasi saat musim lebaran ini dengan total jumlah penduduk Indonesia. Jauh banget. Juga melihat bagaimana orang Indonesia sendiri sangat jarang untuk pergi melancong. Bahkan ke desa2 yg jelas2 tidak mahal biaya hidupnya. Tidak ada orang berduyun2 mau tinggal selama 3 bulan di desa. Hanya sekedar rekreasi menikmati hamparan sawah dan kerja kerasnya petani. Semua orang pengennya pergi ke Singapore atau Dubai.
Pernah terbayangkah kalau kelompok komunitas tempat kita hidup berubah ke arah yg tidak kita kehendaki. yg semula guyub, akrab layaknya pertemanan, menjadi garing, kering seadanya, minimalis. yg tadinya 'friend friendly' menjadi 'user friendly'.
kenapa hal itu bisa terjadi. salah satunya adalah perubahan kelembagaan. sebuah intervensi ampuh. perubahan sendiri bukanlah sesuatu yg perlu ditakuti. karena memang yg tidak akan berubah adalah terjadinya perubahan itu sendiri.
kenapa juga repot mikirin sesuatu yg sudah pasti adanya. karena intervensi kelembagaan atau kehadiran sebuah sistem baru bisa direncanakan dengan baik designnya. termasuk antisipasi jika terjadi sesuatu yg luput dari pengamatan. tujuannya yah agar perubahan yg kita idam-idamkan itu sesuai dan menjadi jalan pencapaian cita2.
bagaimana kalau dibiarkan meradang begitu saja. banyak juga organisasi yg pemimpinnya memilih jalan itu. pembiaran terkadang ada baiknya, jika tahu waktunya.
dengan sikap friend friendly, maka kesulitan bisa dihadapi bersama, dibicarakan dan dicari solusi. dan tidak berakhir dengan suudzon, menggerutu, ngarasula, dendam pribadi, barisan sakit hati. yg tentu tidak menguntungkan buat semua.
kalau saja ngobrol dan jalur komunikasi semudah itu.
hari kedua puasa ramadhan 1430 H. suara orang mengaji sudah terdengar sejak sore tadi. dilanjutkan dengan keriangan anak2 yg sedang sanlat (pesantren kilat) bersemangat karena diberi kesempatan berteriak dengan mikropone di tangan. tidak berhenti di situ, suara speaker di mesjid di RT kami terus bergemeruh. seseorang memberi ceramah singkat sebelum salat tarawih dilaksanakan. yg tentu saja tidak kalah kerasnya.
orang itu menganjurkan agar kita tidak berkumur2 saat kita sedang melakukan puasa. siapa tahu ada yg ketelen. kita tidak pernah tahu bagaimana seharusnya menahan diri. jadi lebih baik tidak dilakukan. sebuah pilihan aksi yg underestimate kemampuan diri, menurutku.
puasa tuh menahan diri. anehnya, sang pembicara itu mengenalkan diri dan membanggakan diri dengan sangat lantang di forum tarawih, pake speaker pula. nama saya john doe. kemudian orang memanggil dan menambahkan ustad di depan nama saya. mungkin memang benar begitu adanya. tapi apakah perlu diumumkan sekeras itu. sedangkan kumur2 yg menjadi urutan wudhu saja, dia sarankan untuk tidak dilakukan.
Inikah yg namanya gerakan sosial? Kasus kawan yg berjiwa social enterprenership
Hari Kami (20/8/09) saya
berkesempatan mengunjungi seorang kawan di daerah Leuwiliang. Sebuah lokasi di
seputaran kota kecamatan Leuwiliang yg segera akan pemekaran berubah menjadi
Kabupaten Bogor Utara.
Perjalanan dari Bogor melewati
TPA (tempat pembuangan sambah) Galuga yg sedang bermasalah dan melihat tenda2
yg dibangun masyarakat yg sedang demo. Sepi sih di dalam tenda2 itu. Hanya tulisan
pilok bernada provokatif terlihat diatas kain putih digelar di pinggir jalan, yg
terlihat mencolok.
Lokasi diantara pasar
Leuwiliang lama dan Pasar Leuwiliang Baru. 14 km dari Bukit Ciampea yg bukit karangnya
mengingatkan jaman Lawalata dulu. Ada plang PTPN XII Cianten yg membawa kami ke
rumah sang kawan. Rumah asri di sebelah gerbang Perumahan Bukit Sakinah yg
seperti terbengkalai tidak terurus.
Suguhan pisang goreng yg
rasanya lebih manis dibanding tukang gorengan biasanya. Dia bercerita tentang
tanaman jeruk organik yg ada di halaman depan yg mampu menyuplai jeruk ke kedai
Telapak. Kami diajak ke halaman belakang yg cukup luas. Ada kolam ikan yg tidak
sempat terurus. Semilir angin dari arah pesawahan yg terletak tepat di sebelah
rumah membuat suasana asri pedesaan di rumah.
Dia bercerita ada seorang
kawannya baru saja membeli sebidang lahan 400m2 seharga 8 juta rupiah. Ada pohon
duku dan duren di atas lahan itu. Penjualan tanah kebun marak di daerah ini. Kalau
lagi mujur kita bisa mendapatkan lahan kebun dengan tanaman buah2an di atasnya
dengan harga yg miring, ujarnya bersemangat.
30 menit berkendara menuju
kumbung jamur. Di bawah sana terlihat Sungai Cianten yg aliran airnya sedang
surut. Sungai ini merupakan anak Sungai Cisadane. Terdapat sebuah pembangkit
listrik INDONESIA POWER yg katanya tidak banyak berfungsi saat ini. Karena aliran
air tidak cukup besar untuk menggerakan turbin. Ada berapa banyak electricity plant
yg dibangun projek POWER ini, yg terbengkalai karena tidak cukupnya pasokan
air?
Karena jalan sedang
diperbaiki, kami harus berjalan 2 km untuk menuju lokasi. Melewati bukit kebun
jeunjing dan kebun duku. Pemandangan yg menyedihkan melihat 4 tunggul pohon
duku yg habis ditebang. Tidak ada lagi bibit baru ditanam. Kawanku marah sekali
karena pola seperti ini. Biasanya mereka menebang begitu saja dan tidak
berterimakasih kepada kakek buyutnya yg menanam pohon2 ini.
Kami juga melewati
setidaknya 4 buah sawmill di sepanjang jalan menuju kumbung ini. Di atas sana
masih banyak lagi. Keberadaan sawmil menguntungkan buat petani jamur karena
serbuk gergaji adalah media yg baik untuk jamur tiram. Tapi tentu saja ada
lebih banyak limbah kayu terbuang begitu saja.
Di kumbung jamur yg
investasi kerjanya sudah mencapai 70 juta ini, kita dikenalkan pada proses
produksi juga organisasi produksinya. Seperti ruangan2 yg ada dan fungsinya,
juga cerita seputaran pembangunan kumbung baru karena mereka baru saja
merobohkan kumbung yg mereka bangun 5 tahun lalu. Ada setidaknya 10 orang yg
sibuk bekerja di kumbung itu. Dari yg mulai memindahkan polibag jamur,
pemanenan dan packing juga transporting produk.
Di bukit dimana kumbung
jamur itu berada, dipenuhi tanaman teh. Beberapa waktu lalu, perkebunan teh Cianten
berproduksi baik. Sayang saat ini mengalami kemunduran usaha. Beberapa pekerja
kebun teh, ikut2an menanami lahannya dengan pohon teh. Saat ini mereka biarkan
pohon2 teh itu begitu saja. Yg kemudian mengilhami sang kawan untuk mengolah
dan mengemas teh tersebut dan diberi label ‘wild tea’. Cerdas memang!
Inilah gambar seorang anggota
Telapak yg berjiwa social enterprenership. Dia bisa melihat peluang apa yg ada
di sekitaran rumahnya. Menggabungkannya dengan interest diri, melakukan
beberapa tahapan aksi, dan boom...lihat hasilnya. Sejumlah keluarga tergantung
terhadap kumbung dan pendapatan mereka naik. Sang kawan itu juga menjadi
terasah keterampilannya. Baik ketrampilan manajemen pengelolaan orang,
manajemen keuangan. Begitu juga pemahaman tentang lingkungan sekitar. Pola perubahan
kehidupan masyarakat yg hanya gemar menebang tanpa mau menanam, pola penanaman
yg sembarang saja tidak beraturan, keinginan masyarakat atas motor dan hp baru,
perubahan harga tanah karena adanya isu pemekaran, sampai ke organisasi P3A
pengguna air dan kesulitan sampah limbahan dari pasar yg dihadapi mereka.
Inikah mungkin yg bisa
kita sebut sebuah gerakan sosial yg dilakukan dari tingkat bawah. Apa sudah kerja
nyatamu untuk lingkungan sekitarmu?
Datang ke
SD untuk menjemput Cad. Dia segera memberikan NEM asli dan beberapa lembar
copian yg sudah dilegalisir.
Pake map kuning bu, kata
seorang lelaki paruh baya yg sedang sibuk menulis. Ada dua formulir yg dengan
manual dia tulis tangan. Aku pun bergegas mencari tukang potocopian. Sukurlah sekolah
ini punya koperasi yg siap menjual map dan ATK lainnya. Segera kumasukkan semua
persyaratan yg memang sudah disiapkan. Dan duduk manis menunggu.
Tidak lebih dari satu
jam, nama sang anak dipanggil. Aku kelebihan memasukkan poto. Kulihat Bapak itu
mengisi dua formulir, dan memeriksa kelengkapan syarat. Surat pendaftaran dari
sekolah, Surat Kelakuan Baik (juga dari sekolah), Surat Keterangan Anak Didik
(juga dari sekolah), NEM Asli dan legalisir dan poto.
Ibu di sebelahnya
menuliskan nama anak dan keterangan lainnya ke dalam sebuah tabel. Lagi-lagi
ditulis tangan. Kagum aku betapa pembodohan dan inefisiensi kami pelihara
dengan baik dan sungguh-sungguh. Ada lagi seorang Bapak yg menempelkan poto ke
atas dua formulir, di cap, dan segera diberikan ke sang pendaftar. Ujian tes
masuk SMP tgl 6 dan 7 Juli.
Selesailah tugas formal
hari ini, mendaftarkan anak sekolah.
Ada banyak alasan kenapa kita mesti paham istilah dan konsep
seputaran sungai. Yah setidaknya kita akrab lah. Karena kalo untuk mendalami,
tentu harus ahlinya. Berikut beberapa istilah yg kita dapat dari dua pertemuan
capacity building IWRM.
Sungai-sungai besar berkelok-kelok (meander) melewati dataran rendah
pesisir.
Sungai-sungai ”kepang” (braided rivers) dataran banjir
dan teras-terasnya.
braided
and meandering adalah istilah teknik sungai. Yaitu bagaimana kondisi
badan sungai. Braided tuh istilah untuk sungai yg alirannya lurus. Umumnya
terjadi di bagian hulu sungai. Sedang meandering adalah istilah untuk sungai yg
berkelok-kelok. Untuk setiap kondisi sungai diperlukan perlakuan yg berbeda.
Penting buat kita mengetahui istilah2 ini. Tentu saja orang2
dari pengairan dan Departemen PU yg paling tahu. Tapi kalau kita juga sedikit
memahami kondisi alam ini, kita bisa ikut memahami kenapa ada projek2
infrastruktur seperti yg selama ini terjadi.
Projek normalisasi sungai adalah usaha untuk meluruskan
sungai yg bentuknya meandering (berkelok-kelok). Jelas akan ada pengaruh
terhadap keseluruhan ekosistem jika normalisasi sungai dilakukan. Terutama
mempengaruhi bagian hilir dan bagian tengah DAS.
Projek normalisasi sungai adalah projek besar. Ada banyak
biaya yg dibutuhkan. Dan sepertinya donor banyak memberi pinjaman untuk projek2
seperti ini. Masih harus dicari, berapa banyak projek normalisasi sungai yg
terjadi di Indonesia. Dan kenapa projek normalisasi tetap dilaksanakan jika
dampak negatifnya lebih besar dibanding keuntungannya?
Contoh Sungai ‘kepang’ (braided)
di DAS Ocona, Arequipa, Peru.
Konsep2
dan fenomena lain seputaran sungai. Biasanya kita tidak menganggap informasi
ini penting. Mungkin karena tidak paham apa korelasinya dengan pengelolaan
sungai. Sekarang bisa lebih hati2 jika mendengar informasi seperti ini.
Dewan Air, Forum DAS, dan Mancing Ikan Sapu-sapu di Sungai Ciliwung
Lagi-lagi sebuah pertemuan soal DAS Ciliwung Cisadane berhasil diadakan di Hotel Salak. Ciliwung-Cisadane Watershed Governance (C2WG) begitu tertulis di spanduk di depan podium. Beberapa utusan dari berbagai instansi di bawah Departemen Kehutanan hadir dalam acara yg diberi judul FGD (focus group discussion) ini. Juga beberapa LSM yg memang punya kerjaan di sekitaran DAS Ciliwung atau yg memang punya concern di sana.
Ada banyak ide bertebaran. Namanya juga FGD. Dengan gaya moderator yg nembak-nembak, untuk mengisi waktu karena para pembicara yg sudah didesain di daftar acara belum pada hadir, tapi malah membuat acara diskusi jadi menarik menurutku. Walau ada juga orang protes karena bingung, merasa tujuan pertemuan ini tidak jelas. Mungkin bagian awal ini memang diperuntukkan brainstorming alias curah pendapat. Jadi orang bebas-bebas aja berpendapat dan menceritakan apa saja seputaran DAS Ciliwung, sesuai arahan dan permintaan sang moderator. Dari mulai presentasi 'business as usual', gaya peneliti dengan konsep-konsep made in luar negeri sustainable development (pembangunan berkelanjutan), atau gaya aksi teknologi tepat guna untuk isu daya guna air seperti pemanfaatan aliran sungai untuk pembangkit listrik yg memang sangat menarik.
Walau ditarik kanan-kiri, sebetulnya tujuan semua yg hadir di sini adalah sama. Baik dia dari pemerintahan atau LSM. Baik dia datang ke sini karena perintah atasan atau memang panggilan hati nurani atau kombinasi antara keduanya. Kita pengen liat Ciliwung berfungsi seperti layaknya sebuah ekosistem sungai yg baik, bersih dan semua orang bisa mendapat keuntungan darinya. Itu saja.
Tidak salah kalau seorang teman berkata lantang. Buat saya yg penting adalah aksi lokal. Dia mengingatkan agar kita jangan sampai terjebak lagi ke dalam apa yg disebut KONGRES. Kongkow teu beres-beres (nongkrongin dan berkutat dengan sesuatu tapi tidak ada juga yg dihasilkan). Kerinduannya untuk bisa menyalurkan hobinya, memancing di Kali Ciliwung sungguh terdengar dari nada suaranya. Keprihatinannya karena selama ini hanya ikan sapu-sapu yg bisa didapat, 'menunjukkan rendahnya kualitas air tuh kali', ujarnya.
Oleh karenanya dia mengajak sesuatu yg nyata-nyata saja. Dua minggu lagi kita akan bersihkan sampah di Sungai Ciliwung. 'Ayo kita semua yg bisa dan mau turut serta, kita bersihkan tuh sampah yg ada di kali'.
Tidak semua orang sepakat dengan aksi nyata seperti ini. Beberapa peserta masih 'keukeuh' bertahan dengan pendapat bahwa membereskan kelembagaan perlu dilakukan untuk mewadahi segala kekompleksan masalah. Dorongan untuk membentuk sebuah Forum DAS Ciliwung pun tergulir. Suatu inisiatif yg tidak baru. Karena beberapa waktu wadah koordinasi sebangsa forum ini sudah pernah dicoba digagas. Tapi sayang tidak berjalan mulus, kata seorang pejabat pemerintah yg berwenang mengurus DAS. 'Pada akhirnya hanya LSM juga yg akhirnya tertinggal di forum ini'.
Sudah ada banyak forum dibentuk, yg harapannya mampu menjadi wadah koordinasi untuk ngurusin DAS. Ada Forum Cidanau di Provinsi Banten yg dikenal dengan pembayaran hulu-hilir, Forum DAS DKI yg katanya baru terbentuk, Forum DAS Ciliwung yg pernah ada tapi kemudian tidak terdengar lagi, ada FORUM DAS Nasional.
Tidak kalah seru karena diskusi menyebut soal kelembagaan lain yg baru-baru ini juga sedang naik daun diperbincangkan seputaran isu pengelolaan air. Bagaimana keterkaitan antara keberadaan Dewan Air dengan Forum DAS? Apakah Pasal 87 ayat 2 dan 3 bisa menjadi dasar untuk pembentukan wadah koordinasi seperti ini? Apakah kita benar-benar ingin membentuk kelembagaan yg kredibel untuk pengelolaan sebuah daerah aliran sungai dengan batas-batas alami, dan bukan atas dasar unit manajemen atau batas administrasi wilayah? Apakah pengelolaan badan sungai dan daerah tangkapan air (catchment area) di DAS Ciliwung ini yg notabene dikelola dibawah dua departemen yg berbeda, bisa diintegrasikan? Overlapnya dimana? Apakah Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan Sumberdaya Air No 42 tahun 2008 bisa memfasilitasi pengelolaan air yg terintegrasi? Sepertinya tidak terlalu banyak juga yg berminat untuk merespon poin ini atau karena hari sudah menjelang sore.
Dan diskusi tentang keterkaitan antara land and water terus berlanjut.
Tentu saja kita tidak berkecil hati karena ada lebih banyak pertanyaan dibanding jawaban dalam pertemuan kali ini. Atau mungkin ada benarnya juga yg seperti ini disebut KONGRES seperti kawan satu itu bilang. Karena sesaat sesudah bubaran diskusi, Kali Ciliwung tetap saja kotor seperti itu.
Lampiran.
Pasal 87, UU Air No 7 tahun 2004
Ayat 2. Untuk pelaksanaan koordinasi pada tingkat kabupaten/kota dapat dibentuk wadah koordinasi dengan nama dewan sumber daya air kabupaten/kota atau dengan nama lain oleh pemerintah kabupaten/kota.
Ayat 3. Wadah koordinasi pada wilayah sungai dapat dibentuk sesuai dengan kebutuhan pengelolaan sumberdaya air pada wilayah sungai yg bersangkutan.