kereteg hate







mustikasari
July 4th
Female
Bogor



bakar-bakar, biar bersih. tapi coba nyalain api di bawah pohon nira sambil nunggu orang yg lagi nge-tap air nira. hmmmm, nyam-nyam ....


kenangan masa kecil yg dicobakan kembali saat berkunjung ke Sungai Utik, Pontianak. Februari 2006.
   

<< October 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31



Suatu usaha untuk mengembangkan diri tentang bagaimana BERBAGI.
Bukan, bukan soal berbagi materi semata, hanya satu cara pandang saja yg pasti berbeda dengan cara pandang teman-teman lainnya.

Kelompok AIR:
Konservasi Sumberdaya Hutan, E.26 IPB
Vina Susanti, Ulayat Bengkulu
Eti Kartina, Ulayat Bengkulu

Beberapa dari mereka yg asyik untuk dikunjungi:
Komunitas Telapak
Dani Moenggoro
Mbilung
Sekaralas
SumukraKringetan

teman di sanggar:
Neni
Dion
Deni Boy
Miska
Ari

Orang Ngetop Negeri ini:
Gus Dur
Wimar Witoelar





Free Website Counter
Free Website Counter

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



 
Oct 11, 2009
Hari aku tidak berhasil,

Hari aku tidak berhasil,

Hari ini aku tidak berhasil membawa diriku ke tempat mulung. Pertama jelas, bangun siang. Kedua merasa tidak enak sama orang yg lagi melakukan hajat pagi. Seperti juga kita semua, merasa perlu privacy dan ketenangan di pagi hari.


Lagi2 sepertinya aku salah. Memakai standar ku untuk diterapkan ke orang lain. Buat mu memang perlu ketenangan. Buat mereka, memang mungkin tidak ada dalam kamusnya. Ketika ‘need to go’ untuk nature calling, yah ‘go aja’. Ah masak sih. Kayaknya untuk soal basic, semua orang sama. Makanya ada istilah human right.


Orang2 itu juga malu2, larak lirik, tahu ada orang asing yg ikutan nyemplung ke sungai. Apalagi dengan maksud yg jelas berbeda dengan mereka kebanyakan. Orang mah datang ke sungai untuk membuang, sang laskar malah datang untuk mengambil. Tapi yg jadi objek juga beda kok. Mereka datang buang yg organik. Kita mulung sampah yg an-organik.

Nah justru di situ letaknya. Tidak semua dari mereka datang ke sungai untuk membuang yg organik. Puluhan tahun lalu orang tua kita membuang daun bekas makan atau potongan bekas sayur ke sungai. Karena memang waktu itu tidak ada styrofoam bungkus makanan dan tidak ada plastik pembungkus berbagai jajanan anak. Dahulu kala semuanya dari bahan ramah alam, daun pisang, daun jati, dsb. Sayangnya pola pikir nya tetap sama. Yaitu membuang ke sungai. Bisa ndak diubah sih?


Ah kayaknya cuman elo doang orang paling ribet di dunia. Entahlah. Kelamaan nongkrong dan asik dengan labirin di kepala dan berakhir dengan satu tulisan ini. Aku mengurungkan niat ku untuk pergi mulung hari ini. Telat untuk janji berikutnya.


Posted at 11:48 am by mustikasari

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry