kereteg hate







mustikasari
July 4th
Female
Bogor



bakar-bakar, biar bersih. tapi coba nyalain api di bawah pohon nira sambil nunggu orang yg lagi nge-tap air nira. hmmmm, nyam-nyam ....


kenangan masa kecil yg dicobakan kembali saat berkunjung ke Sungai Utik, Pontianak. Februari 2006.
   

<< October 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31



Suatu usaha untuk mengembangkan diri tentang bagaimana BERBAGI.
Bukan, bukan soal berbagi materi semata, hanya satu cara pandang saja yg pasti berbeda dengan cara pandang teman-teman lainnya.

Kelompok AIR:
Konservasi Sumberdaya Hutan, E.26 IPB
Vina Susanti, Ulayat Bengkulu
Eti Kartina, Ulayat Bengkulu

Beberapa dari mereka yg asyik untuk dikunjungi:
Komunitas Telapak
Dani Moenggoro
Mbilung
Sekaralas
SumukraKringetan

teman di sanggar:
Neni
Dion
Deni Boy
Miska
Ari

Orang Ngetop Negeri ini:
Gus Dur
Wimar Witoelar





Free Website Counter
Free Website Counter

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



 
Oct 26, 2009
Semua orang ingin dirinya merasa berguna

Semua orang ingin dirinya merasa berguna, baik untuk dirinya sendiri (yg kemudian kita sebut dia sebagai seorang egois), bagi keluarga dan kerabat dekatnya, bagi komunitasnya, dan yg tertinggi bagi bangsa dan negaranya. Berbagai upaya dilakukan untuk mencapai tujuan hakiki dalam hidup ini.


Bedanya tipis2 antara orang2 yg memang benar2 berguna dan menyumbang terhadap kemajuan, dengan orang2 yg ‘sepertinya’ berguna. Ada puluhan lembaga pembela rakyat dan penyelamatan lingkungan hidup. Tapi seberapa efektifkah kerja dan upaya lembaga2 ini? Ada puluhan bahkan ratusan orang yg merasa melakukan kerja volunteer untuk penyelamatan lingkungan. Tapi seberapa besar lingkungan yg terselamatkan.


Tulisan ini dibuat sebagai bahan refleksi. Terutama bagi si penulis utamanya. Yg juga seringkali kesulitan memahami apa sebetulnya kebutuhan rakyat dan orang banyak. Dan sering merasa besar kepala. Terlena dengan indahnya kerja2 donor dan travelling2 pertemuan di mancanegara, sambil tentunya sesekali berpose untuk bahan mejeng di face book.


Seorang teman begitu bangganya menjadi volunteer Al Gore untuk penyelamatan lingkungan melalui isu Climate Change. Terlepas dari kehebatannya bermain2 kata dan menyusun proposal atau form aplikasi untuk mendapatkan dukungan dana untuk trip meeting luar negeri berikutnya, sesungguhnya tidak ada yg hebat dengan apa yg mereka kerjakan. Tidak lebih baik dibanding seorang andi yg susah payah memahami dimana batas wilayah dusun cimonyetnya. Ada sebuah gap besar antara asiknya berdiskusi dengan kenyataan permasalahan di lapang yg sesungguhnya benar2 terjadi.


Sebuah presentasi yg digelar oleh ketua volunteer Al-Gore di Kuningan Jakarta minggu lalu. Katanya ada 33 tempat lain di Indonesia yg juga mengadakan presentasi yg sama. Diusulkan untuk langsung masuk dan menggunakan kelompok tani untuk pencapaian tujuan Climate Change ini. Usulan tidak diterima.


Harus diubah yg menjadi sasaran tembak kampanye jangan lagi kelompok LSM juga atau kelas menengah para peneliti yg mungkin mereka sudah paham persisnya apa dan bagaimana penyelamatan lingkungan harus dilakukan. Coba langsung masuk ke publik dan berinteraksi dengan mereka. Lihat apa yg dilakukan Kelompok Peduli Ciliwung (KPC) dengan aksi mulungnya yg dilakukan setiap minggu. Ada benar2 sejumlah karung plastik yg terangkat dari sungai Siliwung setiap minggunya. Ada beberapa orang yg langsung merasakan dinginnya air Sungai Ciliwung dan gelinya melihat sampah mengambang atau tersangkut diantara bebatuan. Kalau kebetulan beruntung mendapat kunjungan, ada sekelompok anak2 SD yg kegirangan karena melihat kepiting merayap keluar dari sarangnya saat air Kali Ciliwung meluap karena hujan tadi malam.


Ndak ada salahnya juga untuk punya rasa berguna. Masih lebih baik itu daripada merasa tidak berguna dan depresi. Lagi2 ini hanya refleksi diri. Yg lebih penting adalah memahami bahwa sungai ini menampung segala macam hiruk pikuk belibetnya anak manusia yg hidup di atasnya. Dari mulai Pak Dulah yg sehari2nya memukul2 palu memecah batu untuk mendapatkan 120rb/colt. Atau dia yg punya projek puluhan ribu euro untuk kerja2 yg disebut penyelamatan lingkungan.

That idealisme has to be realistis. That the standard has to be local. That NA or IWRM or other big word is meaningless, a wise things to say but difficult to exercise.

Posted at 11:44 am by mustikasari

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry