Suatu usaha untuk mengembangkan diri tentang bagaimana BERBAGI. Bukan, bukan soal berbagi materi semata, hanya satu cara pandang saja yg pasti berbeda dengan cara pandang teman-teman lainnya.
Sebagian besar orang akan
menjawab gaji besar di urutan pertama. Tapi tidak semua akan menjawab itu. Pada
umumnya itu adalah orang yg orientasinya mencari kesenangan duniawi semata. Ada
juga orang kesenangaanya dalam hidup memang berkarya. Itu saja. Walau orang
awam akan berkomentar, kalo sampe kesenangannya
bekerja, itu karena naluri kacung kampret-nya tinggi! :D
Di luar perdebatan itu, jaminan
dan kepastian adanya kesejahteraan pasti didambakan semua karyawan. Sebenarnya semua
orang hidup, bukan hanya pada saat resmi bekerja disebuah lembaga. Tapi juga
saat kita bertamasya atau menggunakan ruang publik lainnya. Misalnya pemberian
THR pada hari2 besar keagamaan saat kebutuhan sehari2 meningkat. Asuransi kesehatan
sebagai jaminan ketenangan kita bekerja. Asuransi jiwa dan kesehatan untuk
wisatawan Pantai Pelabuhanratu. Yg ternyata klaim dari tiket masuk kawasan
pantai (biaya retribusi untuk Pendapatan Asli Daerah) tidak bisa dicairkan
karena terbentur Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Kabupaten Sukabumi
(berita Jurnal Bogor 29 September 2009).
Apakah ini suatu keluhan?
Ketua MPR Nur Wahid dalam
wawancara pagi ini, mengatakan bahwa anggota MPR tidak disediakan dengan asuransi
kesehatan. Dia menceritakan bagaimana pekerjaan sosialisasi undang2 yg
dilakukan anggota MPR ke pelosok2 di Papua dan menyusuri sungai2 di Kalimantan.
Dia juga berbagi pengalaman tidak terlupakan saat bis yg ditumpanginya hampir
masuk jurang.
Bukan hanya anggota MPR
yg merupakan sebuah pekerjaan mulia karena mereka adalah representasi rakyat
dan memperjuangkan kebutuhan orang banyak. Kalau diliat2 aktivis LSM juga
banyak melakukan jenis pekerjaan seperti itu. Cuman status legalnya memang
Non-Government, organisasi non-pemerintah (ORNOP). Tapi kalau merujuk harapannya
Prof Sajogyo saat penterjemahan NGO menjadi LSM (ato Gerakan Rakyat), memang
terkandung harapan agar suatu hari kerja2 lembaga ORNOP ini dibiayai oleh
rakyat. (diskusi lebih jauh soal membedakan antara LSM dan Gerakan Rakyat oleh
seorang penulis artikel LSM Erwin Basrin
di http://www.facebook.com/profile.php?id=1536862919#/note.php?note_id=160712187494&ref=mf).
Jadi salahkah kalau kita
berharap ada kepastian seperti layaknya asuransi bekerja dan sedikit tunjangan
kesejahteraan saat kita berkarya? Siapa yg bertugas menyediakan fasilitas itu? Tentu
saja lembaga dimana kita berkarya. Bagaimana dengan para PKL, pemulung barang
bekas, petani yg secara legal formal tidak memiliki dan terdaftar pada satu kelembagaan
resmi? Atau para pelancong di Pantai Pelabuhanratu? Wah yah negara yg harusnya
bertanggung-jawab kalau udah rumit2 kayak begitu. Khan itu menyangkut poverty
dan public service.
Ah ini hanya suatu
kebingungan diri. Mungkin baik petunjuk dari koran Jurnal Bogor hari kemarin. Tentang
bagaimana memompa semangat kerja.
Jangan menyia-nyiakan peluang. Jangan terlalu banyak memikirkan masalah uang
atau penghasilan yg anda peroleh. Jauh
lebih penting anda memperoleh tanggungjawab yg sesuai dengan kemampuan anda.
Lalu bersungguh2 mengerjakannya. Pikirkan bagaimana anda bisa memperbaiki
keadaan yang ada dalam tanggung jawab anda. Seringkali keberhasilan besar
bersembunyi dibalik sebuah peluang yg kelihatannya sepele.
Tapi memang bukan soal besaran
kompensasi yg menjadi concern ku disini. Sama seperti Pak Sukri, paman korban
di Pelabuhanratu yg tidak menuntut santunan dari alokasi APBD. Tapi suatu apresiasi yg lebih bersifat manusiawi. Aku
tahu banyak lembaga yg menggaji karyawannya dengan angka yg biasa2 saja atau
cenderung minus. Tapi sang HRD dan direktur membicarakan semuanya secara
terbuka. Mereka punya hubungan yg baik dan komunikasi terbuka.
Andai saja...
Bisa nggak kabur dengan
anggun?
Semoga ini hanya pengaruh
PMS. Atau jangan2 sindrom siklus 7 tahunan. Menjadi bosan di satu titik setelah
setiap 7 tahun. Hmmm... Bedanya kali ini terasa lebih asik dengan isu yg
digeluti. Dan jelas punya network yg lebih kuat. Mungkin memang waktunya
mengambil tantangan yg lebih besar. Sesuatu yg dikelola sendiri. Bukan cuman
jadi kacung kampret!