mustikasariJuly 4th Female Bogor bakar-bakar, biar bersih. tapi coba nyalain api di bawah pohon nira sambil nunggu orang yg lagi nge-tap air nira. hmmmm, nyam-nyam ....kenangan masa kecil yg dicobakan kembali saat berkunjung ke Sungai Utik, Pontianak. Februari 2006.
|
 |
bunga tiup di photobucket
pagi ini menjadi semangat setelah membaca blog seorang kawan tentang pindahan kantor yg baru terjadi dua hari lalu. semangat karena pindahan tempat mangkal selalu membawa suatu perubahan. apakah perubahan itu membawa berkah, menyenangkan atau apapun, nah itu tergantung bagaimana kita bisa memainkannya. yg menarik dari blog kawan itu adalah PHOTOBUCKET. sebuah link yg bisa menyimpan berbagai poto-poto baik hasil jepretan sendiri atau mengunduh jepretan orang lain. aku nyoba ngebrowse setelah tentu saja mendaftar. kudapat sebuah gambar cantik yg kemudian kuberi judul 'bunga tiup'. indah. karena bisa nunjukkin seberapa besar kekuatan alam dan keteraturan yg ditimbulkannya kemudian. kelopak putih bunga itu terbang. tertiup angin. terbang entah kemana. menemukan rumahnya. entah dimana. mempercayakannya kepada alam untuk membawanya kemana angin membawanya. indah khan. kelopak bunga itu juga berpindah. tidak ada kekhawatiran di sana. jadi kenapa pula harus takut.
Posted at 11:43 am by mustikasari
Permalink
DD masuk kelas saat teman-temannya sudah berbaris di depan kelas. Agak kudorong dia agar masuk kelas dulu dan menyimpan tas nya sebelum dia ikutan berbaris. Enggan dia masuk kelas. Kuterobos gerombolan anak-anak kelas satu itu. Kuantar DD masuk ke dalam kelas. Kelihatan dia binggung, mau naruh tas dimana. Karena hampir semua bangku di bagian depan sudah terisi oleh tas. Entah darimana datangnya, muncullah Zulkifli sang ketua kelas. Entah apa persisnya yg dia katakan ke DD. Kayaknya nanya, mau duduk di sini? Dan dia pun dengan santai memindahkan sebuah tas hitam dari bangku yg ditunjuk DD. Dia pindahkan ke barisan kedua dari belakang dalam jajaran yg berbeda. Entah apa yg terjadi diantara kedua anak manusia itu. Tapi yg jelas kulihat adalah sang ketua kelas melindungi DD. Dan DD merasa nyaman dengan perlakuan itu. Entah apa yg dilakukan DD sehingga sang ketua kelas berbuat seperti itu. Dan aku juga tidak tahu jika perbuatan sang ketua kelas dikategorikan benar atau salah. Terlalu dini untuk intervensi. Dan mereka harus menemukan sendiri bagaimana benar atau salah itu. Entah apakah aku memiliki perhatian seperti ini untuk Cad saat dia duduk di kelas satu SD lima tahun yg lalu. tapi yg jelas apa yg kulihat pagi ini, adalah MY DD. Begitulah kehebatannya dia. 
Posted at 04:38 pm by mustikasari
Permalink
penghargaan dunia itu datar
Seorang kawan ku berturut-turut mendapat penghargaan. Entah dari lembaga A, B, C bahkan lembaga yg entah darimana hubungannya dengan segala kesibukkan berlomba memberinya penghargaan. Seorang kurir bermata bulat yg mukanya mengkilat karena keringat menyusuri jalan pajajaran untuk mencari alamat, mengantarkan permohonan surat penghargaan itu. Lembaga As tuh dimana sih? Tanya seorang kawan lain yg kuyakin tidak paham apa yg sedang terjadi dengan bertubi-tubinya penghargaan. Oo lembaga itu hanya memberi sesuatu kepada orang yg sudah kaya. Kenapa tidak memberi kepada orang yg miskin dan biasa-biasa saja? Aku juga pernah punya pertanyaan itu ketika mendengar betapa bertubi-tubinya seseorang mendapat keberuntungan. Inilah teori the world is flat itu benar terjadi. Bahwa penghargaan dan apresiasi berupa uang beberapa puluh ribu dolar itu akan diberikan untuk orang-orang yg memang mampu, hebat, kaya, pintar, berprestasi. Kenapa tidak ada beasiswa untuk orang yg biasa-biasa saja? Mungkin namanya bukan beasiswa atau penghargaan tetapi subsidi. Ah namanya saja sudah terasa tidak enak. Padahal khan penghargaan semestinya kita berikan kepada seseorang yg sudah melakukan sesuatu. Dan yg melakukan sesuatu itu bukan hanya orang itu saja. Kesuksesan orang yg dapat penghargaan itu karena kerja banyak orang. Kenapa hanya dia yg mendapat pernghargaan.
Posted at 03:08 pm by mustikasari
Permalink
Teori Tukang Ledeng di Selasa Beda
Biasanya aku
tidak suka Hari Selasa, tidak ada yg hebat yg terjadi di hari Selasa. Kali ini
berbeda, karena aku banyak menemukan kenyamanan di hari ini setelah mampu
mengungkapkan diri dengan bebas dalam beberapa rangkaian diskusi yg berbeda.
Energi kreatif adalah
energi yg bagus untuk melancarkan pekerjaan kita. Energi ini harus kita
timbulkan. Berlatih mengeluarkan ide di dalam satu sesi di rapat resmi staf
BPP. Suatu latihan yg tidak buruk. Ada lebih dari 20 ide yg terdaftar.
Tok belajarlah
dari tukang ledeng. Kalau ada yg bocor di sini, ditambal. Ada cicak yg bikin
mampet dibersihkan. Sederhana dan tepat guna karena langsung bisa dirasakan
manfaatnya.
Tertegun
mendengar masukan seorang kawan.
Teori tukang
ledeng baik digunakan sebagai alternatif dari model pengelolaan air yg selama
ini dijalankan. Tapi jika kita ingin masuk ke tingkat policy analisis,
sepertinya teori Rob yg harus dipakai.
Posted at 02:37 pm by mustikasari
Permalink
Kuliah Pagi GWR soal Riset & Keris
Pagi ini dia
mengantarkan langsung beberapa lembar komentarnya atas paper NyoUt dan YurYas. Lanjut
dengan kuliah pagi. Yg terbayang pertama, adalah aduh, aku belum ngerjain
projek the common. Walau bukan juga sepenuhnya ada di pundakku. Ada sih
beberapa hal yg harusnya bisa aku mainkan. Hehehe... ketika udah mulai sibuk
kayak begini, pekerjaan yg tadinya sambilan menjadi terasa menyita waktu.
Percakapan pagi
ini sangat indah. Bermakna dalam. Kuliah segitu tahun, rasanya dipersiapkan
untuk percakapan seperti ini. Kupastikan Bapak ini merasa nyaman. Pesanan
capucino panasnya dihirup perlahan. Sayang Dunhill menthol pesanannya tidak ada
di koperasi. Tapi dia bisa menerima Mild Menthol hijau.
Yg saya komentari
dari paper ini adalah sesuatu yg baku. Sedangkan substansi tidak bisa saya
tangkap, apa isinya. Aku pasti kan bahwa aku mengerti apa yg dia maksud. Dia
pun menambahkan, kalau substansi bisa diterima apapun itu. Justru itu yg akan
menjadi bahan diskusi.
Yg penting adalah
hal-hal baku yg menjadi dasar penulisan sebuah paper. Yaitu, principle of relevance, principle of
clarity dan principle of originality. Masak tulisan setingkat
disertasi, tiga poin penting ini tidak bisa ditemukan? Kenapa bisa begitu?
Padahal yg menjadi co-author pun terdiri dari beberapa pakar.
Proposisi A dan proposisi B. Coba sandingkan, dan
lihat bagaimana keduanya bekerja. Proposisi adalah pernyataan antara dua atau
lebih variable. Variabel bisa didapat dari evidensi empiris dan juga berasal
dari pikiran-pikiran.
Misalnya, diambil
contoh soal tesis yg diutarakan Geertz. Yaitu, Indonesia pernah mengalami suatu
waktu yg kondusif untuk terjadinya economic take off. Kedua, jika suatu
momentum terlewatkan, maka dibutuhkan beberapa generasi untuk kembalinya
momentum itu.
Yg kebayang saat
bapak ini menjelaskan adalah bagaimana kesulitan kuhadapi saat harus menulis
tugas paper akhir suatu mata kuliah. Juga saat mempersiapkan hand out untuk
presentasi suatu bab dari mk di STFD. Dan bagaimana bebasnya teman-teman
sekelasku saat mereka membebaskan pikirannya. Dan datang dengan pandangan2
tertentu. Ada beberapa poin lain yg tertulis manis di buku catatanku. Kubiarkan
dia disana. Supaya aku bisa mengisi sore ini dengan kerjaan lain...
Bahwa tesis
Geertz tidak ada yg mengulas. Yg diperhatikan adalah konsep involusi pertaniannya.
Hal seperti itu biasa terjadi pada suatu konsep yg baru masuk ke suatu negara,
katanya.
Keris dan
cangkangnya. Raja dan patih. Siapa yg mendapat wahyu? Raja terpilih lah yg
mendapat wahyu. Bahwa yg pintar biasanya si patih, itu biasa. Tapi si raja yg
mendapat wahyu. Dia yg selalu berbicara di depan publik. Dan dia yg berwibawa
saat menyampaikan pidato-pidatonya.
Bahwa keris ini
harus dipastikan memiliki cangkangnya. Kalau tidak sang keris akan liar,
menyambar kemana-mana. Sebuah philosophy Jawa yg dalem. Kenapa rasanya aku
begitu akrab dengan topik pewahyuan ini?
Posted at 05:00 pm by mustikasari
Permalink
Akhirnya pertanyaan itu kudapat juga. Well sebenarnya sudah mulai kudapat sejak beberapa bulan yg lalu. Saat jalan sama Maartje memuncaknya. Dan jawaban Iis sebulan yg lalu saat kami berkunjung ke rumahnya, memperjelas isu ini. Wah aku tidak bisa nerima pekerjaan yg tarifnya dibawah itu. Tarif ku khan harus naik terus. Begitu jawabannya, saat kami tanya apa kesibukannya sekarang. Dia menghabiskan 80 juta untuk menyatukan dua buah rumahnya. Sebuah harga yg kemahalan. Dan dia merasa sangat sakit hati kepada mantannya yg tega melakukan itu semua. O, itukah sebabnya kenapa tarif mu harus terus naik dan mahal. Untuk membayar sakit hati dan segala konsekuensinya. Dia pun diam mengiyakan. Sempat merasa kecil mendengar itu semua. Berapa tarif mu Neng? Ah murah sekali. Seringkali tidak dibayar. Tapi aku juga tidak perlu membayar seabreg sakit hati. Hubungan kemanusiaan ku baik-baik saja. Great malah. Tapi pagi ini seseorang menanyakan tarif ku. Dan aku bisa begitu santai menjelaskan konteks dan diskusi yg sudah berlangsung sejauh ini. Tidak ada lagi rasa 'sungkan' itu. Mengalir saja. Sang penanya pun bisa santai menerima penjelasan itu. Tidak ada lagi sungkan karena yg memberikan penjelasan itu adalah perempuan. Ah betapa menyenangkan bisa sampai ke titik ini. Jadi berapa tarif mu? Hehehe... Kita bicarakan itu secara kekeluargaan... dan pertanyaan tarif itu terus berlanjut. kok bisa yah. siapa yg mengatur. apakah kita harus cukup tua sampai seseorang menanyakan pertanyaan itu kepada kita?
Posted at 02:34 pm by mustikasari
Permalink
Banyak pekerjaan
ku tidak kelar. Tapi jika pagi tiba, maka bengong sambil merenung-renung apa yg
harus dikerjakan pertama kali, keluar begitu saja.
Perasaan seperti
ini, aku ingat persis, terasa saat suatu pagi di cafe CIFOR yg orang hilir
mudik mengambil kopi, dan aku bertanya, apakah anda tahu apa pekerjaan anda
hari ini? Tidak ada yg merespon. Orang malah memandang aneh. Aku pun lama
menyadari bahwa itu adalah sebuah pertanyaan filosofi. Yg kalau mau dicermati
mungkin bibit dari berkembangnya suatu teori.
Kembali pagi ini,
rasa dan pertanyaan seperti itu, kambuh lagi. Tentu saja kali ini dalam kondisi
yg jauh lebih nyaman. Laying down on my red cozy sofa starring at my books
collection. Setelah menelan sebutir vitamin penambah darah, barulah aku mampu
mengangkat kepala dari tumpukan bantal batikkku.
Ton Vink dengan
terjemahan wawancara Budi. Bill Telkomsel buat Neni. Mbaca catatan hariannya
Sogo. Belum lagi pesan-pesan aneh Dias. Jadi hari ini akan ada dua rapat besar.
Studi YBS dan Rapat Buku The Common.
Toh akhirnya aku
membaca beberapa sub-judul bukunya Romo Magnis, Etika Politik. Dan beberapa
paragrap The Brothers Karamazov. Sambil teringat dua buah emailnya Maartje.
Akhirnya menulis
catatan harian seperti ini sungguh melegakan. Seakan berbagi beban. Ada tuh tulisannya,
begitu biasanya ungkap ku saat merasa terpojok.
Darimana
datangnya lemes itu? Karena asupan makanan yg tidak cukup. Gaya hidup tanpa
olah raga. Mungkin. Tapi bahwa pertanyaan, apa yg harus aku kerjakan sekarang,
saat ini. Itu adalah pertanyaan universal. Itu soal management waktu.
Sebaiknya aku
beranjak sekarang. So punya cukup waktu untuk mampir nengok Arbi ke Azra. Poor
guy!
Posted at 11:20 am by mustikasari
Permalink
KETERATURAN DAN PENEMUAN POLA
Pada intinya
semuanya adalah soal keteraturan hidup. Sesuatu yg terpola. Tentu saja
disesuaikan dengan kondisi, waktu diri pribadi masing-masing kita.
Rumah adalah awal
dan sumber keteraturan. Tentu saja bisa dibalik. Bahwa rumah bisa menjadi
sumber petaka. Tapi dalam kasus yg kuhadapi, things getting better when I feel
hommy. Walau tentu saja bulan ini tagihan kartu kredit ku bakal membludak.
Karena terjadi pembelanjaan barang-barang tiny winny kebutuhan rumah, yg memang
serasa tiada henti. Tapi itu adalah cost yg harus dibayar.
Pagi, seperti
biasa memberangkatkan DD sekolah. Mang Ai menjadi terlihat lebih sigap setelah
kami kembali menempati rumah yg sudah kami perbaharui. Biasanya dia terlalu
malas untuk membukakan pintu mobil jemputannya. Sulit untuk segera menaruh
kepala konsentrasi membaca teksbook etika filsafat praktis. Belum lagi harus
mengambil keputusan Komunitas Warga FBH. Seiring dengan matahari pagi, yg hari
ini bersinar setelah hampir sebulan ini turun hujan, maka semangat itu kembali.
Bahkan bisa nulis lagi Log ini.
Udah hebat tuh.
Karena saat menulis inilah saat tepat untuk berefleksi. Mengambil jarak dan
melihat kembali apa yg sudah terjadi. Sehingga juga menjadi lebih mudah untuk
melihat ke depan dan mengambil keputusan.
Kalau orang tidak
pernah pindah rumah, tidak pernah ngalamin ditolak loannya oleh bank, tidak
pernah bergumul mencuri waktu antara ngerjain tugas sekolah dan ngurus anak,
belum lagi tugas laporan dan proposal yg belum juga tersentuh. Kasihan sekali
orang itu.
Tapi buatku
melihat itu semua, maka kulihat pola. Jika pola hidup itu sudah dikuasai, akan
banyak waktu diri untuk menata dan mendidik hati. Dan tentu saja hidup lebih
bahagia.
Wah ini eudemonistiknya
Aristoteles. Menuju kebahagiaan. Apakah kamu yg menjadi penganut prinsip etika
kebahagiaan?
Posted at 11:17 am by mustikasari
Permalink
kenapa begitu banyak tulisan
aku meminta orang2 sekitar ku untuk rajin menulis. aku menuntut orang2 yg bekerja untukku menulis laporan tertulis. lucu juga. ketika kemudian aku ikutan NTFP milist dan menemukan begitu banyak artikel yg di posting. aku mengeluh. banyak amat sih tulisan. dan menarik untuk dibaca.
speed reading. dan tuntutan ke orang. nggak singkron.
Posted at 08:29 pm by mustikasari
Permalink
istrinya merasa diacuhkan
seorang teman mengeluh. istri ku marah. karena dia merasa diacuhkan suaminya. kalau dia ada di rumah, bersama istri dan bayinya, maka dia akan asyik bekerja di belakang lap top. kalau tiba-tiba ada pak RT atau temannya datang, maka dia terlihat begitu bersemangat bercerita dengan sang tamu. tapi kenapa tidak dengan sang istri. begitu keluh sang istri.
lucu juga mendengar cerita ini. kenapa bisa begitu yah. rasanya aku akrab dengan cerita seperti itu. bisa memahami dan empati. mungkin juga pernah ngalamin. walau sekarang jelas tidak lagi punya persoalan soal itu.
Posted at 08:25 pm by mustikasari
Permalink
|