Suatu usaha untuk mengembangkan diri tentang bagaimana BERBAGI. Bukan, bukan soal berbagi materi semata, hanya satu cara pandang saja yg pasti berbeda dengan cara pandang teman-teman lainnya.
Sedang nyoba rumah
barunya. Cara baru untuk pamer dan eksis. Sesuatu yg mengundang orang lain
untuk berkomentar miring. Kalau saja mereka punya akses ke internet dan
melakukan sesuatu yg lebih berguna. Kenapa cuman gue doang yg capek dan susah
tidur? Apa yg salah dari sistim bermasyarakat kita ini?
Tidak berhenti di situ. Sampah
juga dikumpulin? Tanyanya keheranan melihat keranjang takakura ku sedang dijemur
dibersihkan. Kurasa dia akan keheranan habis melihat ada orang yg begitu carefulnya
dengan resource. Wah belum ktemu temen londo ku dia.
Mungkin itu jawabnya. Mereka
harus diajak agar ketemu sebanyak mungkin orang di luar komplek tempat dia
hidup. Kalo orang melihat banyak, orang akan terinspirasi, mendiskusikan,
membandingkan, mulai bertanya2. Dan menonton film adalah salah satu cara
mengenal kehidupan di luar sana.
Jangan ngomong terlalu
gede. Bahkan anaknya si teteh aja, menyerah keluar sekolah. Tawaran film ato
apapun tidak akan menyentuh lingkaran kehidupan mereka. Terus apa dong???
Seorang ibu berkata lirih
mengungkapkan perasaannya atas kehilangan anak laki-laki kesayangannya. Sudah setahun
berlalu ternyata, ujarnya. Dan kita semua terdiam, menghayati rasa yg hadir
menyergap itu. Kecuali deru Sungai Ciliwung yg bergejolak mengantarkan aliran
sungai berwarna coklat. Di hulu juga sedang turun hujan tentunya.
Kenapa kita hanya diam
pasrah dan bukannya berontak berjuang keras untuk satu kondisi yg terjadi? We take
it for granted. Kita pikir itu adalah suratan takdir. Sesuatu yg harus kita
terima karena memang dari sononya begitu. Kenapa tidak ada pikiran ‘nakal’ yg
mempertanyakan WHY.
Harusnya situasi seperti
ini tidak terjadi. Harusnya orang bisa hidup lebih baik. Harusnya orang2 yg
tinggal di pinggiran sungai ini tidak begitu saja membangun rumahnya dan
beranak pinak di sini. Harusnya mereka layak mendapat rumah yg lebih pantas di
satu tempat yg lebih aman. Ini hanya sebuah pilahan tebing yg bisa longsor
kapan saja.
Harusnya kondisi pelayanan
kesehatan di negeri ini lebih baik lagi.
Semua orang juga
menerima. Tidak ada yg bertanya kenapa. Pemerintah desa memberi ijin tinggal,
listrik, PLN, PAM semua terdaftar resmi. Rukun Tetatangga, Rukun Warga,
Keluarahan, semua tertulis dalam buku administrasi dengan baik. Tidak ada yg
salah.
Aku sedang berpikir ala dr.
Greg House. He is away to good for me. Setidaknya aku tidak menghentikan curiousity
ini begitu saja. Walau tidak jelas di mulanya, tapi yg penting terus menerus
memikirkan dan mencobakan (membelum).
Bersukur harus tahu
caranya. Cari cara kreatif yg otak kita bisa menerima bahwa itu memang yg
namanya bersukur. Berterimakasih atas segala yg kita miliki dan jika punya
keberanian lebih, kembali menyusun satu mimpi baru. Asik juga punya Kedai yg
rame dikunjungi orang.
Nongkrong di Kedai
nemenin orang2 penggila bola itu nobar. Mereka bersorak dan berteriak saat tim
favoritnya melakukan manuver2 mempertunjukkan keahliannya. Atau menyayangkan
saat ada kesempatan yg terlewatkan. Kurasa nobar merupakan satu terapi hidup. Lasta
masta. Jauh dari kerumitan hidup yg dijalani sehari2. Tidak lebih dari 50 orang
yg tidak saling kenal bisa menatap ke satu titik yg sama. Kasian sekali orang
yg tidak punya hobi.
Dalam Julie and Julia,
seorang perempuan warga NY (Amy Adams) mempunyai target untuk menulis satu artikel
yg diambil dari buku resep tebal karangan seorang penulis Amerika yg lama
tinggal di Perancis (Meryl Streep). Setiap harinya dia mencoba satu jenis
masakan baru dan menuliskan cerita apa yg terjadi dalam kehidupan kesehariannya
di balik setiap praktek resep itu.
Kepikiran untuk menulis
resensi satu buah film setiap harinya. Dan melihat bagaimana film itu terkait
dengan gerakan air yg sedang kamu usung. Ide bagus juga. 365 hari dengan 400
resensi film. Menjadi jelas apa goal harian dan goal tahunan.
bermodal referensi email dari seorang kontak di NGO
Internasional, maka sang jurnalis denmark itu dengan nyantainya terbang ke
Indonesia. setelah penerbangan total hampir 24 jam, dia pun pasrah saja ketika
ditembak 500rebu naek taxi sampe ke Santika Bogor. Yg juga happen harus bayar
untuk rate 1 juta/malam karena tidak pake persiapan. lebih parah lagi, ketika
ditanya adakah framework atau outline kerja yg ingin dia capai selama dia ada
di sini, dia pun hanya mengandalkan cerita dan beberapa poto yg dia download
dari internet.
sebagai seorang freelance dari sebuah suratkabar terkemuka di salah satu negara
terkemuka di Eropa, mungkin dia memang punya keleluasaan lebih besar untuk
bermanuver seperti itu. berniat untuk tinggal selama sebulan di Indonesia. Menuliskan
sebuah cerita tentang bagaimana rusaknya pengelolaan sungai dengan tingkat
polusi paling tinggi di dunia. Dia lebih punya modal karena dengan beberapa
bulan saving, memungkinkan dia untuk travel dan studi di Indonesia. Selain itu
keberanian yg mereka miliki untuk beradventurir menjelajah dunia, sangat besar.
Mereka tahu bahwa kerja keras mereka ada harganya. Kalau dia bisa menuliskan
tentang sungai citarum dan segala hiruk pikuknya, maka dia bisa menjual cerita
dan bahkan menulis sebuah buku dari sana.
Sebuah privilege buat orang kita umumnya. Ah ndak juga, elo
ajah tidak berani. Hehe..
Capek mendengar perempuan
ini bicara. Tapi aku bisa menahan diri. Mendengarkan sampai dia selesai. Dan kemudian
berkomentar. Anehnya komentar ku malah mendapat pujian. Katanya karena aku
sudah hidup dengan pikiran seperti itu, maka bukan hal yg aneh jika aku
berkomentar berbeda dengan orang umum kebanyakan.
Catatan siang.
Perempuan itu sudah
pernah melahirkan seorang anak perempuan 4 tahun lalu. Dan saat ini baru juga
melahirkan seorang bayi perempuan mungil. Sejarah terulang. Mereka menikah
grasak-grusuk. Banyak orang bertanya apa yg terjadi. Padahal kuyakin orang juga
tahu apa yg sudah terjadi. Perempuan pagi ku bilang, sukurlah sang lelaki
bertanggung-jawab. Dalam artian mengakui bahwa memang itulah anakku.
Catatan sore.
Oh kamu mau mendengar
suara ku. Dan senyap itu malah memberi ku tambahan energi. Walau agak sengau
karena penuh emosi, tapi berhasil membuat orang diam dan mendengar. Walau agak
kecewa melihat hasil pencatatan, memang tidak banyak yg kamu katakan. Kenapa tidak
sibuk untuk nge-draft ngonsep biar agak lebih terarah. Toh sudah paham bahwa
skill verbal mu kurang berkembang dibanding skill menulis mu. Setidaknya itu
pembuka yg cantik.
Perempuan itu marah,
terluka hatinya karena mendengar selentingan kabar bahwa dia tidak mampu
bekerja perform. Haha... memang tidak enak dibilang begitu. Tapi juga bukan
tidak mungkin itu adalah feedback yg paling baik yg bisa diberikan orang. Karena
dunia memang kejam. Mereka tidak peduli bagaimana proses terjadinya. Pokoknya semua
beres. Kalau pun tidak beres, setidaknya ada penjelasan yg masuk di akal. Belum
lagi harus punya kemampuan untuk menjelaskan argumentasi itu dengan suara
lantang dan argumentatif. Ah panjangnya buat perempuan untuk menjadi hebat.
Perempuan itu melipatkan
kakinya. Jeans hitam ketatnya memberi kesan mengundang. Walau dia sibuk
mengelus kerudung memastikan agar jarum pentulnya tidak merubah kerutan dan
posisi kerudung di dahinya, tapi jelas bahasa tubuhnya mengatakan hal lain. Pandanglah
aku dan nikmatilah. Tidak tahu juga apakah dia sadar dengan situasi ini.
terlalu aja kalo tidak sadarkan diri. Sampe usia 29 tahun dan perempuan tidak
menikah memang biasa jadi aneh2 ato beberapa cenderung trouble. Harusnya ada
penyaluran dalam bentuk lain agar keseimbangan itu terjadi. Sayang ada banyak
norma yg membatasi. Dan kita ditantang untuk lebih smart mencari penyaluran
demi balance itu terjadi.
Walau dimulai dengan
sedikit bersitegang di pagi hari tapi ditutup dengan smile di sore hari. Udah jelas
kamu hidup dengan orang yg menjunjung tinggi nilai2 anti sloppy. Dan minggu
terakhir di tahun 2009 ini memberi ku hadiah terindah. Membuka diri atas satu
sifat diri, sloopy, slordeh, teledor. Tidak enak mendapat feedback pait seperti
ini. tapi kalau berpikir bahwa tidak ada yg sempurna, maka poin ini bisa
diterima lapang dada. Tinggal bagaimana kita memperbaikinya.
Coba ingat. Bagaimana saat
kamu menulis email. Bandingkan dengan teman2 sebaya mu. Bagaimana kamu bertutur
dan berpikir. Cek tulisan2 mu di blog. Jelas menunjukkan si sloppy ini. teman2
mu sudah berusaha mengatakan poin ini. elo ajah ndableg (apa lagi tuh bahasa
englishnya).
Tapi hebat nya ini
training/projek peningkatan kapasitas diri. Selain mendapat tambahan elmu baru
tapi juga mampu merubah, membedah, mengacak2 isi kepala dan kebiasaan diri. Dicarikan
seorang guru privat yg mampu menyusun kurikulum sesuai kebutuhan, tidak kurang
tidak lebih. Langsung menyangkut pula dengan pengelolaan SDA. Untuk kemudian
menuju hidup yg lebih baik.
Seorang ibu mengeluh
karena anaknya tidak juga mandiri.
Kasih tahu cara berpikir. Bukan solusi. Begitu saran seorang teman saat kutanya
bagaimana caranya agar anak bisa mandiri kelak dalam hidupnya. Kurasa pesan yg
sama bisa diberlakukan untuk siapapun. Masyarakat yg kita dampingi, atau mitra
yg menjadi rekanan dalam projek, dsb.
Bagaimana cara memberi
tahu orang lain tentang cara berpikir? Sedangkan orang umumnya ingin yg instan
saja. Apa solusinya? Tanpa dia sendiri mau ikut serta berpikir terlibat ke
dalam proses perubahan itu. Rasanya enggan membuka casing kepala dan
menggunakan sel biru otak kita untuk berpikir. Jelas saat kita berpikir kita
akan dihadapkan pada pilihan-pilihan dan tantangan untuk melakukan satu
pilihan. Memilih adalah suatu resiko, apapun itu pilihannya. Kita memang tidak
dibiasakan untuk memilih. Sistem Pendidikan baik di rumah atau pun di sekolah
kurang memberi kesempatan buat kita untuk mengembangkan poin ini.
Bayangkan saat pertama
kali masuk dan memesan pizza di sebuah resto Italia saat kunjungan pertama ku
di Amerika. Mau pesan pizza jenis toping apa? Ada setidaknya 10 list daftar
campuran pizza. Tanpa pengetahuan yg cukup, jelas bingung. Kemudian ditanyakan
apakah extra cheese. Kemudian bagaimana pinggiran pizza nya. Kemudian bagaimana
roti pizza nya, reguler atau crispy. Bahkan sampai pesan minuman Coke pun
selalu diberi pilihan, reguler atau diet.
Dan betul yg kulakukan
adalah mencoba mencari tahu, baik lewat ngobrol, membaca buku, googling tentang
jenis2 toping. Bahkan kalau kita udah janjian mau makan di resto X, kita bisa
mempelajari menunya melalui internet. Minta rekomendasi teman tentang jenis
makanan mana yg paling enak. Dan kalau udah terlalu capek, tinggal pilih jenis
makanan pertama yg ditawarkan pramusajinya. Atau tanya balik, what is your
special menu today?
Serupa dengan analogi
pesan pizza. Ajarkan mereka dengan pola berpikirnya. Dan berikan kebebasan agar
mereka sendiri menentukan pilihannya. Nah di bagian ini yg biasanya seru.
Karena merasa kita yg sudah mengajari, maka saat sang anak didik punya sesuatu
yg berbeda, kita anggap itu nyeleneh. Padahal itu khan konsekuensi membuat
seseorang pintar dan menggunakan otaknya.
Begitu kata seorang teman mengingatkan. Aku menambahkan buang2 umur. Dan dia tertawa senang karena teorinya dibenarkan.
Tapi sesungguhnya aku merasa kebalikannya. Aku justru merasa hidup saat pertemuan projek ku berlangsung. Beberapa minggu sebelum itu kucurahkan untuk melakukan persiapan. Melalui malam2 panjang memahami bagaimana institutional arrangement WRM. Bagaimana pengelompokkan dan pengkategorian laws and regulation. Bagaimana WS ditetapkan. Bagaimana model DSDAN, DSDAP dan Komite DAS bisa direalisasikan. Dan ketika pertemuan itu tiba lega rasanya. Karena semua persiapan dan kepusingan otak bisa dikeluarkan. Ada wadah nya. Ada orang yg mendengarkan, menanggapi, mencermati, memberi feedback, dan merumuskan langkah apa selanjutnya yg harus dilakukan.
Menurut mu darimana aku bisa dapat input sebrilian itu kalau bukan dari meeting? Wong dia juga menghabiskan banyak waktu dengan rapat2 koordinasi berkepanjangan. Emang lho pikir orang bisa mendadak pintar dalam satu malam apa!!! Dan dunia memang tidak akan pernah mengerti kita semudah itu.
kita akan menawarkan paradigma baru pengelolaan air di indonesia. dengan berbasis 3 hal, water as human right,
sustainable ecosystem dan community-based management. that is matter. imaginasi tentang bagaimana dan apa setelah kita mampu merumuskan 3 hal ini, baru kita lakukan kemudian.
kita sudah melakukan hal yg sama untuk hutan, laut berupa karang dan ikan hias. intinya sama. bungkus kemasannya saja yg berbeda dan berubah disesuaikan dengan kebutuhan.
jangan menawarkan kesempatan orang untuk bermimpi di atas sesuatu yg belum jelas. bereskan dulu pondasinya. jangan sampai juga terjebak ke alam wacana-wacana diskusi debat jargon. sajikan referesni yg sifatnya memang praktis-pernah dilaksanakan di lapang dan mudah untuk diaplikasi. biar saja yg rumit dan berteori urusannya para peneliti. bener juga yah...
aneh kenapa terasa baru begitu terang sekarang. kemana aja luh kemarin? banguuuuuunnnnnnnn!!!!
biasa itu. orang akan datang dan pergi. bayangkan saja pengalaman mu dengan pengasuh anak dan pembantu rumah tangga. entah berapa sudah perempuan muda datang ke rumah ku. memberi warna tersendiri saat mengasuh si kecil. sebelum akhirnya bisa nemu yg klik seperti sekarang. kurasa anggota team kerja seperti itu juga. mereka juga berhak hidup dan mencari penghidupan yg lebih baik. besar kemungkinan projek mu tidak memberi cukup challenging untuk orang stay. atau bisa juga kamu telah berhasil membuat mereka pergi. menyadari bahwa dunia adalah luas. dan tidak sabar untuk segera melakukan sesuatu on their own. tidak bisa dipaksakan. biar sajalah. dan biasa sajalah. biasa itu dalam perjuangan. hehe...